Loading...

Elsa Puspita - Lovhobia

Elsa Puspita - Lovhobia
Elsa Puspita - Lovhobia
Gefan menyisir rambut panjangnya dengan jari sambil terus melangkah menuju kantin.
Beberapa orang yang dilewatinya langsung menyingkir, memberi jalan supaya dia tidak
menabrak mereka. Gefan mengabaikan tingkah orang-orang itu. Dia tidak menyalahkan mereka.
Penampilannya memang tidak mencerminkan mahasiswa yang baik. Rambut sebahu yang
nyaris selalu berantakan, kemeja lusuh, jins belel, lengkap dengan sepatu kets yang sudah tidak
jelas berwarna apa. Hal terutama yang membuat orang-orang itu menjauhinya adalah sebuah
tato abstrak mengerikan di lehernya. Hanya karena penampilannya seperti preman terminal
bukan berarti tingkahnya juga seperti itu. Tetapi, dia tidak merasa harus mengadakan konferensi
pers untuk mengklafikasi dugaan-dugaan miring itu. Biar saja orang-orang berpikir sesuka
mereka tentang dirinya, dia tidak peduli. Semakin banyak orang yang menjaga jarak darinya,
semakin baik untuk hidupnya. Dia berbelok memasuki kantin dan melihat sesosok gadis duduk di
meja tengah. Gadis itu tampak asyik dengan handycam di tangannya sambil mengulum lollipop.
Gefan menghampiri gadis itu. “Woy!” tegurnya sambil menggebrak meja. “Monyet bunting!” teriak
gadis itu kaget. Dia menatap Gefan dongkol. “Harus, ya, ngagetin gitu?” sungutnya. Gefan
menyeringai. “Laper, Na,” ucapnya. Lanna kembali pada handycam-nya. “Ya, makan. Ngapain
ngomong sama gue? Emang muka gue mirip rumah makan Padang?” Gefan tertawa kecil. Dia
lalu berdiri untuk memesan makanan. Beberapa mahasiswa lain menyingkir saat dia mengantre,
termasuk mahasiswa senior. Meskipun baru semester dua, dia sudah cukup terkenal sebagai
mahasiswa paling sangar di jurusannya. Padahal, Gefan tidak pernah bersikap kasar kepada
mereka. “Nasi ayam bakarnya satu, Bu,” pesannya. Bu Asih, salah seorang penjual di kantin,
langsung membuatkan pesanan Gefan. Setelah si ibu menyerahkan pesanannya, Gefan
membayar dengan uang pas, lalu kembali ke meja Lanna. Lanna masih dengan kegiatannya.
Jus jambu di depan gadis itu nyaris tidak tersentuh. Gefan menjulurkan leher sedikit kea rah
handycam Lanna, lalu mencibir. Lanna sedang melihat rekaman tentang pacarnya, Arsen. “Gue
nggak nyangka kalau cewek kuliahan masih ada yang minat pacaran sama anak SMA,”
ledeknya sambil memasukkan sesendok nasi dan potongan ayam bakar ke mulutnya. Lanna
memelototi Gefan. “Bentar lagi dia juga bakal jadi mahasiswa!” semprotnya. “Ya. Dan, lo udah
semester tiga. Dia? Maba.” Lanna mengabaikannya. Gefan dan Arsen tidak pernah bisa
berdamai. Dia sendiri tidak tahu mengapa. Yang jelas, sejak kali pertama dia memperkenalkan
kedua orang itu, mereka langsung sepakat untuk saling memusuhi. Setiap kumpul bertiga, pasti
ada yang menjadi bahan pertengkaran mereka. Dan, Lanna harus selalu siap menjadi penengah
kedua lelaki itu. Lanna mematikan handycam itu, lalu menyeruput jus jambunya. “Daripada lo
ngurusin kehidupan cinta gue sama Arsen, kenapa lo nggak ngurusin kehidupan cinta lo aja?”
Gefan mengangkat bahu. “Nggak minat,” jawabnya, kembali berkonsentrasi pada nasi soto di
depannya. Lanna menghela napas sambil geleng-geleng kepala. “Gue nggak pernah nyangka
kalau fobia cinta itu beneran ada.” Gefan mengabaikannya. *** Laura Fernita baru saja selesai
memasang kancing terakhir kemejanya ketika ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Delia,
sahabat sekaligus teman sekelasnya di kampus, sebagai pengirim pesan. Isinya mengatakan
kalau gadis itu tidak masuk hari ini karena ada pemotretan di luar kota dan menitipkan absen.
Dia menyisir rambut pendeknya dengan jari, lalu mengibaskannya. Setelah memastikan
penampilannya cukup layak, dia berjalan keluar kamar. Dia menemukan Rangga, kakaknya, dan
orangtua mereka sudah di meja makan. Aura menarik kursi di sebelah Rangga. “Kak, bareng,
ya,” katanya. “Delia nggak masuk, tuh, mobilku juga belom ganti oli.” Rangga mendengus. “Iya
tuh anak, baru pulang beberapa hari, udah pergi lagi.” Aura mengambil selembar roti, lalu
mengolesnya dengan selai cokelat. “Karier dia lagi bagus. Bangga, dong, punya pacar model
beken.” “Yah, kalau setiap saat ditinggal, kesel juga,” gumam Rangga. “Ajak nikah aja,” kata
Mama. “Biar nggak ke mana-mana lagi.” Rangga tersedak susu yang baru diminumnya. “Delia
itu masih seumuran Aura, Ma. Dua puluh tahun juga belum. Mana mau dia nikah.”
https://www.download-pdf.ikhsan.my.id/p/forbidden.html

Forbidden

Loading...

0 komentar:

Post a Comment

 
Download PDF