Loading...

Lusiwulan - Pasangan (Jadi) Jadian

Lusiwulan - Pasangan (Jadi) Jadian
Lusiwulan - Pasangan (Jadi) Jadian
Malam,memutar otak.
Priyayi memekik. Bibirnya membuka, matanya berbinar. "Ya, ya, ya.... Sewakan kamar! Ide
bagus," gumam Priyayi. Matanya tetap mengikuti jalannya film South Kensington yang DVD-nya
ia sewa tadi dalam perjalanan pulang ke rumah, tapi konsentrasinya terpecah sudah.
Apa pasal cewek manis ini sampai memekik "Sewakan kamar"?
Dimulai dari keinginan Priyayi yang telah terpendam sekian lama. Lama-lama status keinginan
tersebut memuncak menjadi impian besar. Dan menurutnya sekarang inilah saatnya impian itu
harus mulai diungkapkan kepada pihak-pihak yang diperkirakan mampu dan akan menjadi
sponsor untuk mewujudkan impiannya tersebut dalam jangka waktu relatif cepat.
Mau tahu apa impian Priyayi itu?
Benua Eropa.
Memang sih orangtua Priyayi termasuk dalam golongan orang kaya yang mampu pergi ke
belahan bumi mana saja kapan saja.
Jadi ke Eropa bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Sekarang masalahnya yang diimpikan Priyayi
lebih dari sekedar berangkat, check-in hotel, keliling kota, jalan-jalan ke tempat wisata, beli
cendera mata kemudian pulang.
Yang diinginkan gadis itu adalah keliling di negara-negara besar Eropa dalam rentang waktu
yang tidak terbatas. Kalau di-rating mulai dari 1 sampai 5, dengan 1 adalah berminat dan 5
adalah bosan, maka rating yang diinginkan Priyayi adalah 5. Oke, 4 tak apa-apalah(4 adalah
tidak ada lagi tempat menarik bagiku).
Dia mengincar kota-kota besarnya, menikmati hotel, kafe, restoran, tempat clubbing, dan
perawatan kecantikan. Semua dengan fasilitas kelas satu. Terlebih, Priyayi kepingin banget
belanja di butik-butik desainer kelas dunia, langsung di kota asal mereka. Ia mengincar Milan,
London, Paris sesuai dengan yang dibacanya di majalah-majalah atau yang ia tonton di jaringan
TV kabel.
"Haaa?" Mamanya melongo mendengar penuturan anak perempuannya." Kamu gila atau
apa,Nak?"
"Ih...., Mama,biasa aja deh!"
"Mana bisa dianggap biasa?! Kalau satu-dua minggu dan cuma jalan-jalan sih nggak apa-apa,
mama dan papamu bayarin semua, tapi ini.....?! Buang-buang duit namanya! Mendingan
dialokasikan untuk sesuatu yang lebih penting atau untuk kegiatan sosial," oceh Mama.
"Ma, nanti aku tambahin pake tabunganku. Nggak sekarang kok, masih beberapa tahun lagi."
"Kenapa nggak Mama dan Papa saja yang nambahin?" celetuk Papa angkat bicara.
Sebenarnya jawabannya sudah bisa ditebak. Papa hanya ingin menyindirnya. Mama
mengangguk-angguk tanda mendukung.
"Potong warisan deh..."
Kontan mama dan papanya tergelak,
"Yakin amat ada warisan buatmu," seloroh Mama.
"Yakin donk, kalian memang kadang suka bikin sebal, tapi kalian masih tetap orangtua yang baik
dan peduli terhadap anak-anaknya," sahut Priyayi, ada unsur merayu didalamnya.
"Berarti setengah pembayaran rumahmu dan membayar penuh mobilmu tanpa memotong
warisan," timpal mamanya penuh kemenangan.
Papa merangkul bahu anaknya dan bertukas," Karena kami sebagai orangtua terlalu baik, kami
akan membayari tiket pesawat pulang-perginya."
"Ditambahi biaya hotel dan jajan seminggu juga nggak apa-apa, Pa?" usul Mama seraya
tersenyum bak malaikat penuh ampunan. Papanya ikut-ikutan. Priyayi tambah manyun. Yaah.....
Memang nggak bisa berharap banyak dari orangtuanya.
Loading...

0 komentar:

Post a Comment

 
Download PDF