Loading...

Putu Kurniawati - Ketika Elang Mencintai Dara
Putu Kurniawati - Ketika Elang Mencintai Dara
Dara. Begitu orangtuaku memberi nama. Pas aku masuk SD, nama itu jadi mengganggu banget.
Soalnya temanku yang iseng bilang bahwa namaku kayak nama burung. Sampai sekarang, di
saat aku sudah kelas X, nama itu masih mengganggu.
Waktu MOS kemaren, aku mesti bikin name tag, dan nama panggilan mesti dicantumkan di
name tag itu. Nggak mungkin aku pakai nama Dara. Aku masih punya nama belakang, Dara
Aurelia Hadikusuma. Jadi aku pakai nama Aurel.
“Aurel !?! Nama lo kebagusan! Ganti aja!” dia lalu membuka dan membaca namaku keras2
dengan nada jahat. “DARA Aurelia Hadikusuma!” terus dia bilang. “Gimana kalo lo pake nama
BURUNG DARA? Kayaknya lebih cocok. Besok name tag lo diganti pake nama itu, oke?
Jangan lupa, tulisanya mesti gede2!”
Jahat, kan?
Keadaanku sekarang kontras banget sama Elang, anak kelas XII yang baru pindah ke SMA
Republik (sekolahku) seminggu yang lalu. Cowok itu keren, tinggi, atletis, jago basket, dan
kabarnya pinter banget dikelas. Apalagi dia punya mata berwarna cokelat yang siap menyihir
siapa saja yang melihatnya. DIa kelas XII.
Aku mempunyai kakak bernama Adzy dia kelas XII juga.
Aku punya satu kelebihan. Badanku jangkung. Terakhir aku ukur tinggi badanku 174 cm. Nggak
beda jauhlah sama Elang yang kira2 tingginya 180 cm.
Saking kerenya Elang, Sasha (cewek kelas X paling popular di sekolah) ikut-ikutan masuk bursa
persaingan.
Shasa selalu bilang. “Gue cantik, gue smart, dan gue popular.” Sombong banget, kan?
Aku punya masalah yang lebih penting. Pak Bambang (guru fisika yang paling nyebelin di
sekolah) bilang kalo kemampuan aku dalam hitung-menghitung masih lemah. Aku dikasih PR
tambahan, sepuluh nomor lebih banyak dibandingkan teman-temanku. Dan dia bicara dengan
suara menggelegar. “Dara, khusus untuk kamu, kerjakan sepuluh nomor lagi pada halaman dua
puluh tiga. Kamu masih perlu banyak latihan!”
Padahal banyak anak lain yang nggak bisa jawab pertanyaan Pak Bambang. So, kenapa mesti
aku?
Siang ini aku mau ngerjain soal-soal itu di kantin, sambil nungguin Adzy ikut pembinaan
olimpiade sains. Tapi aku juga cukup jago matematika kok.
0

Putu Felisia - My Lovely Gangster
Putu Felisia - My Lovely Gangster
BANGKOK-THAILAND, pertengahan Juni.
Seorang pria berusia tiga puluhan duduk di sebuah ruangan gelap, mengamati layar komputer
sambil bertopang dagu. Seorang wanita cantik ikut mendampinginya, duduk bersandar dengan
manja sambil membelai bahu pria tersebut. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu,
selain sepasang kekasih biasa. Hanya saja, saat itu masing-masing dari mereka menggenggam
pistol semi otomatis yang sama. Pistol dengan dua puluh butir peluru yang siap ditembakkan
daati magazen-nya, mengundang maut bagi musuh-musuh mereka.

Ruang sempit di sekeliling mereka berpendar redup, cahayanya mengenai sebagian wajah
sang pria. Tato naga hitam kecil melingkar di pelipisnya yang mulai berkerut. Konsentrasinya
terarah ke layar komputer. Mengamati refleksi gorong-gorong gelap di luar. Keadaan di sana
sangat bertolak belakang dengan ketenangan dalam ruangan. Suasana teramat kacau saat itu.
Roda-roda terbakar berserakan di sana-sini. Gorong-gorong penuh dengan sosok-sosok tubuh
berlumuran darah. Sebuah perkelahian besar sedang terjadi. Puluhan anggota geng terlibat baku
hantam di gang-gang sempit, memperdengarkan bunyi-bunyian berisik dari senjata mereka.
Linggis, parang, juga dongkrak mobil bergerak bergantian membentuk sebuah orkestra perang,
bersamaan dengan senjata-senjata lain yang beradu nyali. Berebutan menyesap kehidupan dari
sisa-sisa darah manusia.
0

Peter Blauner - The Devil's DNA
Peter Blauner - The Devil's DNA
Tak lama setelah melewati pintu gerbang besi dan keluar
menuju halaman hijau alam pedesaan Pemakaman Cricklewood,
Francis X. Loughlin mendapati ketenangan sore pertengahan
Oktober itu dikoyak oleh derak dan rintihan alat pengeruk
yang bekerja.
Ia menoleh ke sekeliling, berusaha mencari tahu di mana
mereka menggali. Kini tak ada apa-apa lagi di tempat benda itu
sebelumnya berada. Sebuah debam logam keras lain membuat
sekelompok angsa terbang tinggi di atas makam besar di sisi
Kolam Cypress. Ia mengawasi burung-burung itu menghilang
dari jarak pandangnya, tepat sebelum ia memperkirakan, satu
lagi pertanda terganggunya keserasian alam.
Dua puluh tahun.
Ia mengambil sisi sebelah kiri malaikat granit pertama dan
mengikuti suara mesin-mesin di Hemlock Avenue, melewati
kebun jambangan berpayung rimbunan daun, rangka kayu peti
mati, dan peti-peti mati di atas tanah, tempat orang-orang
terkemuka beristirahat tak jauh dari para kuli pelabuhan,
biarawati bersebelahan dengan atlet-atlet bintang baseball,
Putri India di sebelah Raja Glamor, yang Wafat Alamiah
berdampingan dengan mereka yang Mati Mendadak.
0

Orizuka - The Truth about Forever
Orizuka - The Truth about Forever
Neighbour from Mars
Kereta jurusan Jakarta- Yogya berjalan tenang di antara persawahan. Di dalam kereta itu,
seorang cowok berumur dua puluh tahun tertidur dengan mulut separuh terbuka. Suara dentumdentum
keras terdengar dari headphone besar yang merosot dari telinganya dan malah melingkari
lehernya.
Seorang anak perempuan menatap wajah cowok di depannya itu dengan cermat. Ibu dari anak
perempuan itu juga sedang terkantuk-kantuk. Anak perempuan itu bangkit dan mendekati cowok
di depannya. Dia memperhatikan iPod yang ada di tangan cowok itu, lalu menjulurkan tangan,
bermaksud menyentuhnya.
"Jangan!" seru cowok itu, membuat anak perempuan itu tersentak kaget. Namun, mata cowok itu
masih terpejam. Rupanya, dia hanya mengigau.
Anak perempuan itu menghela napas lega, lalu kembali menjulurkan tangannya. Tiba-tiba,
cowok iti bergerak gelisah.
"Jangan! Lepasin gue!! JANGAN!!!" seru cowok itu.
Si anak perempuan terlonjak kaget dan akhirnya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa?" kata ibu dari anak itu. Rupanya ibu itu terbangun karena teriakan keras si cowok.
"Ada apa, Lani?"
Anak perempuan bernama Lani itu dengan segera menangis, lebih karena kaget. Ibu si anak
menenangkannya, lalu melirik tajam ke arah cowok tadi.
Yogas, si cowok tadi, masih terlalu kaget dengan mimpinya. Mimpi buruk yang sudah sekian
tahun mengganggunya. Yogas menyeka keringat dingin yang mengalir deras di wajahnya, lalu
menatap si ibu yang juga menatapnya tajam.
"Oh. Maaf, Bu," kata Yogas setelah melihat Lani masih terisak meski dia tak tahu persis apa
kesalahannuya.
Si ibu tidak begitu peduli dengan permintaan maaf Yogas, bahkan membuang muka. Yogas
menggigit bibirnya merasa bersalah, lalu membetulkan duduknya. Setelah memastikan si ibu
tidak kembali menatapnya, Yogas membuang pandangannya ke luar jendela. Kereta masih
melintasi persawahan.
Yoga menghela napas berat mengingat mimpinya tadi. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram
lengan kirinya erat.
0

Orizuka - Summer Breeze (Cinta Nggak Pernah Salah)
Orizuka - Summer Breeze (Cinta Nggak Pernah Salah)
"AYO kita sama-sama bikin surat permohonan! Ntar kalo kita udah gede, kita baca bareng!" sahut Reina bersemangat. Orion dan Ares berpandangan sesaat, lalu kembali memandang gadis kecil berkepang dua yang ada di depan mereka. "Surat permohonan?" sahut Orion dan Ares bersamaan. "Iya!" jawab Reina mantap. Dia mengeluarkan tiga helai kertas dan sebuah spidol. Orion dan Ares memandangnya bingung. "Aku tulis duluan deh!" kata Reina lagi, lalu beberapa saat kemudian dia sibuk menulis. "Nah, selesai! Sekarang Rion, kamu tulis apa yang kamu inginkan waktu kita udah gede nanti!" Orion menyambut sehelai kertas dan sebatang spidol dari Reina, memandangnya sesaat, lalu mulai menulis. Setelah itu, Ares melakukan hal yang sama. "Terus, mau diapain surat ini?" tanya Ares setelah selesai menulis. "Kita kubur!" seru Reina lagi. "Di bawah pohon ini!" Reina menghampiri sebuah pohon akasia besar yang tubuhnya sudah habis ditulisi 'Ares-Rei-Rion', lalu mulai menggali. Orion dan Ares mengikuti dan membantunya menggali sambil sesekali mengelap peluh yang bercucuran. Setelah selesai, Reina memasukkan ketiga surat itu ke kaleng biskuit, lalu menguburnya. "Aku kan belum baca punya kamu!" protes Ares kepada Reina. "Memang nggak boleh dibaca sekarang!" seru Reina pura-pura marah. "Kita bacanya nanti, kalo udah gede!" "Kapan?" sahut Ares lagi. "Um... kapan ya? Sepuluh tahun lagi? Sepuluh tahun lagi kita sama-sama ke sini! Kita tulis tanggalnya di pohon ajaib!" seru Reina sambil memahat tulisan 14 Februari di pohon. "Eh, sepuluh tahun dari sekarang, tahun berapa sih?" "2005," kata Orion, dan Reina segera memahat angka itu. "Nah, udah selesai. Tanggal 14 Februari 2005, kita ke sini lagi, terus kita baca deh surat-surat kita!" kata Reina ceria. "Kalo nggak ketemu lagi?" tanya Ares tiba-tiba. "Nggak akan!" sahut Reina cepat. "Kita kan selalu bersama-sama! Kita nggak akan pernah terpisah!" katanya mantap sambil bersungguh-sungguh menatap kedua wajah anak laki-laki yang persis sama itu. Ares sejenak memandang ragu Reina, lalu menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
0

Orizuka - Our Story
Orizuka - Our Story
Yasmine melemparkan pandannya keluar jendela, menatap barisan mobil yang meray ap
perlahan. Ia melirik jam tangan Guess-nya, 07:30. Ia sudah sangat terlambat untuk masuk
sekolah.
Haryo, sang supir, meliriknya dari spion.
“Telat ya, Neng ?” tanyanya dengan nada sedikit bersalah. Yasmine menggeleng sambil
tersenyum.
“Ngak apa-apa kok, pak, paling juga dimaklumin kalo anak baru,” hibur Yasmine, lebih kepada
dirinya sendiri. Haryo mengangguk-angguk.
Yasmine menggigit bibir lalu kembali ke jam tangan. Baru satu menit berlalu semenjak terakhir
kali ia melakukannya. Yasmine menghela nafas pelan. Waktu selalu berjalan dengan lambat
kalau ia sedang terburu-buru.
“Tapi, Neng. Bapak masih nggak habis piker,” kata Haryo lagi, membuat Yasmine mengangkat
kepala. “Kenapa papa Neng nyuruh Neng masuk sekolah itu,”
“Saya juga ngak tahu, Pak. Katanya sekolah itu bagus dan berstandar internasional,”
“Ah, masa sih ??,” Haryo terdengar sangsi. “Saya malah heran waktu ngedaftarin Neng disana.
Kemarin Pak Raymond nyuruh saya sambil buru-buru ngejar pesawat, jadi saya nurut aja dan
ngak sempat nanya-nanya lagi,”
“Ngak apa-apa kok, Pak, makasih,” Yasmine melempar senyum Haryo mengangguk, lalu
kembali berkonsentrasi pada jalanan yang sudah sedikit lancer.
Yasmine menghela nafas pelan, lalu mneyandarkan kepalanya ke jok. Ia teringat kejadian
beberapa hari lalu, saat ia masih di Amerika.
Tepatnya lima hari yang lalu, Yasmine hamper terkena serangan jantung saat mendapat telepon
dari Indonesia yang mengatakan ibunya sedang mengalami kecelakaan dan sedang terbaring
koma. Semenjak kedua orang tuanya bercerai, Yasmine memang memilih untuk ikut ayahnya ke
Amerika. Tapi setelah mengetahui ibunya sekarat, Yasmine memutuskan untuk kembali ke
Indonesia. Ayahnya setuju, dan mencarikan sekolah untuk Yasmine dengan meminta bantuan
teman baiknya di Indonesia, Raymond, yaitu majikan Haryo.
0

Orizuka - Oppa & I
Orizuka - Oppa & I
'Oppa yang lebih asing dari alien.. Aku tidak butuh. Sepasang mata bulat seseorang gadis menatap ke sekeliling bandara Internasional Incheon-mengagumi keindahannya dalam hati. Berkebalikan dengan isi hatinya, ekspresi wajah cantik gadis itu masam, seolah bandara itu mengeluarkan bau busuk, bukannya harum semilir kopi. Gadis itu menghela napas, lalu duduk di atas koper pinks yang digantungi kartu pengenal bertuliskan `JANE PARK, Indonesia. Ia lantas beralih menatap koper lain-berukuran dua kali lipat yang sedang ia duduki-yang ada di depannya. ''Jae In-a!'' Jae In, gadis itu refleks menoleh. Seorang wanita cantik semampai berusia pertengahan tiga puluhan menghampirinya sambil melambai. Jae In kembali menghela napas ''Mian(maaf), toiletnya penuh,'' katanga dengan suara manis dibuat-buat. ''Kenapa tiba-tiba bahasa korea?'' tanya Jae In, dalam bahasa Indonesia. ''Apa karena kita sedang di Korea?'' ''Keourom(tentu saja).'' Wanita itu tersenyum manis, sengaja menyibak rambut saat beberapa pria lewat dan mengagumi posturnya, mebuat Jae In sukses menganga. ''Eomma, jebal jom (eomma, please deh)!'' Jae In menyahut, tak sadar dirinya pun sudaah menggunakan bahasa itu. Bahasa yang tak pernah digunankannya lagi semenjak 5 tahun lalu. Sandy tersenyum simpul melihata anak gadisnya yangs ekarang menutup mulut dan terlihat salah tingkah. Jae In memang tak pernah suka menggunakan bahasa Korea. Tidak semenjak lima tahun lalu, saat kehidupannya berubah drastis. Senyum Sandy berangsur lenyap. Saat ia mengubah kehidupan anaknya sendiri, secara drastis. Lima tahun lalu, Sandy begitu egois saat memutuskan untuk bbercerai dengan Jae Bin. Begitu egois untuk memisahkan Jae In dengan pasangan sehidup sematinya. Begitu egois untuk membuang apa yang dinamkan keluarga. Namun, Sandy masih yakin setangah atau lebih dari segala kejadia ini adalah kesalahan Jae Bin. Mantan suaminya yang kaku dan workholic itu memilih utnuk menerima panggilan tugas dis Seoul daripada tinggal bersamanya di Jakarta. Masih jelas di ingatan Sandy saat ia meberi Jae Bin pilihan:mengambil pekerjaan itu atau bercerai, dan Jae Bin memilih bercerai. Masih jelas pula rasa sakit di hati Sandy sehingga ia ikut menyanggupi keputusan suaminya itu. Mantan suaminya. Sandy tadinya hanya ingin menyuci Jae Bin. Tak sekalipun Sandy menduga bahwa Jae Bin akan lebih memilih pekerjaan daripada dirinya. Sandy pun tidak ingin kalah, ia harus memperlihatkan pada Jae Bin bahwa tanpanya, ia bisa hidup dengan baik di Jakarta. Menikah di usia yang sangat mudah-sembilan belas tahun-membuat psikologis Sandy dan Jae Bin masih begitu labil, hingga mereka melakukan hal yang orangtua manapaun tak akan melakukan: memisahkan dua anak mereka untuk tinggal di negara berbeda. Hati Sandy sebenarnya sakit saat memikirkan itu, namun sekarang ia sudah ada di sini. Ia sdg memperbaiki kesalahannya.
0

Orizuka - Meet The Sennas
Orizuka - Meet The Sennas
Aku Daza. Anak kedua dari tiga bersaudara. Yang artinya aku anak tengah.
Astaga. Sebenarnya aku sedang apa,sih?
Aku merobek halaman yang baru saja kutulisi dengan kalimat-kalimat bodoh. Sial. Aku memang
tidak punya bakat apapun,bahkan hanya untuk menulis diary kacangan seperti ini. Lagi pula,apa
sih yang harusnya diyulis dalam diary?
Sebenarnya,tidak masalah kalau saja Tante Amy memberiku diary ini sepuluh tahun lebih awal.
Setidaknya,aku bisa meminta teman-temanku mengisinya dengan nama,hobi,citacita,
makanan,favorit,moto... lebih bagus kalau diselipkan pantun atau apa... But,hello?
Sekarang,aku sudah tujuh belas dan rasanya norak banget kalau aku meminta teman-temanku
melakukan itu.
Diary yang aku maksud ini bukan diary keren seperti organizer-yang masih pantas dibawa anak
SMA,bahkan pada zaman tablet seperti sekarang ini-tetapi merupakan sebuah diary yang berbau
sangat menyengat,halamannya berubah warna setiap sepuluh lembar. Dan,seakan semuanya
masih belum cukup menggelikan,cover diary ini adalah seorang cewek bermata luar biasa besar
dan membawa payung berenda.
Aku benar-benar kepingin membuangnya,tetapi jika aku melakukannya,berarti aku juga harus
membuang semua hadiah dari keluargaku yang,yah,bisa dibilang jauh lebih menyedihkan dari.
diary ini
Ayah,contohnya,dia memberiku rumah Barbie. Rumah Barbie. Aku,anak gadis yang sudah tujuh
belas tahun,diberi rumah barbie oleh ayahku sendiri. Sedangkan di luar sana,di belahan dunia
lain,anak-anak gadis tujuh belas tahun mendapat mobil mewah atau kalung mutiara dari ayah
tecintanya.
Bunda,seakan mau menyaingi kekonyolan ayah,memeriku piano Casio kecil yang pernah aku
miliki saat aku berusia tujuh tahun,tetapi akhirnya rusak karena tersiram air. Dia berkata dengan
polos sambil menekan tombol yang segera mendendangkan lagu Jingle Bell, “Kamu enggak
kangen sama lagu ini,Daze? Dulu,kamu sering menekan-nekan tutsnya,pura-pura main kayak
yang udah jago,pake lagu ini.”
Well,thanks a lot,Bun! Aku benar-benar rindu masa-masa itu! Sungguh!
0

Orizuka - Infinitely Yours
Orizuka - Infinitely Yours
Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?

Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri—dan menjauhkan hati—pada akhirnya akan bertemu kembali.

Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya....

Kau, aku, dan perjalanan ini.


***



“Kocak! Wajib dibaca dan dikoleksi Kpoppers maupun non-Kpoppers supaya lebih mengenal Korea! Jjang!” - Edwin Joo, head admin of http://KoreanUpdates.com


“Di bawah sihir romantisme Korea, dua kepribadian berbeda bertualang bersama. A very funny yet entertaining love story!” - Lia Indra Andriana, penulis SeoulMate
0

Tere Liye - Komet
Tere Liye - Komet
Setelah “musuh besar” kami lolos, dunia paralel dalam situasi genting. Hanya soal waktu, pertempuran besar akan terjadi. Bagaimana jika ribuan petarung yang bisa menghilang, mengeluarkan petir, termasuk teknologi maju lainnya muncul di permukaan Bumi? Tidak ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi. Situasi menjadi lebih rumit lagi saat Ali, pada detik terakhir, melompat ke portal menuju Klan Komet. Kami bertiga tersesat di klan asing untuk mencari pusaka paling hebat di dunia paralel.

Buku ini berkisah tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini juga berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian, dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

novel komet kapan rilis
novel komet pdf gratis
download novel komet
kapan novel komet minor rilis
ebook novel komet pdf
novel komet minor kapan terbit
ebook novel komet
novel komet tere liye
download novel komet by tere liye
isi novel komet
baca novel komet online
novel komet rilis
download novel komet pdf gratis
novel online komet
sinopsis novel komet pdf
download novel tere liye komet
spoiler novel komet
sinopsis novel komet minor
sinopsis novel komet ceros dan batozar
novel tere liye terbaru
komet novel
buku novel komet pdf
quotes novel komet
apakah novel komet sudah terbit
free download novel komet pdf
download novel komet ceros dan batozar
tanggal rilis novel komet minor
novel komet minor kapan keluar
resensi novel komet
download novel komet minor pdf
novel komet gramedia
novel komet sinopsis
cerita novel komet
baca novel komet gratis
komet novel
novel komet kapan terbit
review novel komet
kabar novel komet
harga novel komet gramedia
download novel komet by tere liye
baca novel komet
kapan novel komet dirilis
novel komet terbit
novel komet pdf download
bocoran novel komet
novel komet gratis
novel komet sudah terbit
novel komet pdf
kelanjutan novel komet
download novel tere liye komet
novel tere liye terbaru
novel komet tere liye
novel komet kapan keluar
sinopsis novel komet
novel komet
beli novel komet
novel komet pdf
novel komet minor pdf
harga novel komet di gramedia
novel komet tere
novel komet download
novel komet di gramedia
harga novel komet
jual novel komet
kapan novel komet diterbitkan
novel komet minor
novel komet by tere liye
novel setelah komet
novel lanjutan komet
unduh novel komet pdf
download novel komet
download novel komet pdf 2018
cover novel komet
baca novel komet online gratis
novel komet dan ceros batozar
ringkasan novel komet
cuplikan novel komet
novel komet by tere liye
download novel komet minor


6

Orizuka - I For You
Orizuka - I For You
Sebuah Audi A6 putih mengilap berbelok anggun ke pelataran parkir SMA Pelita Kita dan berhenti tepat di samping pos satpam. Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun berbadan tegap dan berwajah tampan keluar dari pintu pengemudi. Ia bergegas membukakan pintu untuk anak perempuan cantik bermata hazel yang tadi duduk di sampingnya. Benjamin Andrews, laki-laki itu, baru menekan kunci remote mobil ketika Princessa Setiawan melambaikan tangan. "Tunggu, sweaterku." Benji mengangguk, kembali menekan kunci supaya Cessa bisa mengambil sweater dari punggung jok. "Udah?" tanyanya. Cessa mengangguk sembari mengenakan sweater kashmir hangat berwarna pink lembut. Benji mengunci mobil, lalu mulai melangkah masuk ke halaman sekolah, diikuti Cessa. Beberapa anak yang berjalan di koridor menatap mereka dengan kagum. Cessa dan Benji merupakan pasangan paling fenomenal di sekolah ini. Cessa adalah anak seorang direktur perusahaan tekstil ternama yang memiliki beberapa cabang di luar negeri. Darah Prancis yang mengaliri tubuhnya membuat ia seperti boneka: matanya hazel, rambutnya cokelat, tubuhnya tinggi dan langsing, kulitnya pun putih mulus walaupun tampak pucat. Sementara itu, Benji adalah anak pemilik perusahaan kelapa sawit, sahabat ayah Cessa. Ayahnya yang berkebangsaan Amerika membuatnya memiliki fitur mirip dengan Cessa, hanya saja matanya hitam, mengikuti mata ibunya yang orang Jawa asli.
0

Onik - Rain -  Kisah Pacar Malaikat
Onik - Rain - Kisah Pacar Malaikat
Tetanggaku Seorang Malaikat
"Vey!!! Keluar, Vey!" seseorang menggedor-gedor pintu
kamarku, mengejutkanku, hingga beberapa pakaian yang
akan kumasukkan ke lemari, melompat berhamburan
kemana-mana... aaah apes! Akupun cemberut seraya
membuka pintu kamarku.
"Ada apa sih! Bikin kaget aja!" kataku ketus pada Vika,
teman satu kontrakanku yang tinggal di kamar sebelahku.
"Ada tetangga baru, Bo', ganteng bangeeeet!" katanya
sambil melompat-lompat kegirangan. Astaga, Vika! Sampai
segitunya! Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Vika
menatapku heran seraya mengerutkan alisnya,
"Kok kamu cuek, Vey?"
"Emangnya aku harus ngapain? Ikut sorak-sorak kayak
kamu? Jelek-jelek gini aku masih waras, Vik," Vika mencibir
mendengar jawabanku.
"Lagian kamu ini kayak nggak pernah liat cowok ganteng
aja," kataku lalu kembali masuk ke kamar. Vika
menghalangiku,
0

Odisei 6- Pertarungan Terakhir - Mary Pope Osborne
Odisei 6- Pertarungan Terakhir - Mary Pope Osborne
Sambil menantikan kabar tentang sang putra,
Penelope, ratu Ithaca, memanjatkan doa
kepada para dewa sambil mencucurkan air mata.
Lima minggu yang lalu, putranya, Telemakus,
berlayar untuk mencari Odiseus, ayahnya yang
telah lama menghilang. Tak lama sepeninggal
putranya, Penelope mendapati bahwa para pria
yang bermaksud meminangnya berencana
menghabisi nyawa pemuda itu dalam perjalanan
pulang.
Bertahun-tahun lamanya, pria-pria kejam itu
telah berusaha menggulingkan Odiseus. Setiap
hari mereka membuat Penelope tersiksa. Mereka
menduduki rumahnya dan menuntutnya untuk
memilih salah seorang dari mereka untuk
dijadikan suami. Tapi Penelope tetap menjaga
kesetiaannya pada Odiseus. Dengan menahan
siksa dan malu, ia memberi janji kosong pada
para peminang itu. Ia berjanji akan menikahi
salah seorang dari mereka, namun kemudian ia
menunda-nunda dengan cara menolak untuk
memilih siapa yang akan dinikahi.
0

Odisei 5- Kembali ke Ithaca - Mary Pope Osborne
Di bawah sebatang pohon zaitun di pantai
yang terasing, terbaring Odiseus, sang raja
Ithaca yang tengah tersesat. Beberapa minggu
sebelumnya, Odiseus telah berjuang
menyelamatkan nyawa dari badai yang maha
dahsyat. Ia menjalani hari-harinya tanpa
makanan dan minuman. Ia berhasil
menyelamatkan diri dari kematian berkat
bantuan seorang dewi laut. Dan sekarang, hanya
dengan diselimuti dedaunan, ia terlelap
kelelahan.
Selama dua puluh tahun sejak meninggalkan
medan tempur di Troya, Odiseus telah berkalikali
mencoba kembali ke Ithaca, tanah
kelahirannya yang tercinta. Pada saat itu ia
harus berhadapan dengan badai dan bertempur
melawan berbagai monster. Ia telah kehilangan
armada kapal beserta seluruh awak kapalnya.
0

Odisei 4- Dewi Bermata Kelabu - Mary Pope Osborne
Odisei 4- Dewi Bermata Kelabu - Mary Pope Osborne
Odiseus, sang raja Ithaca, berjalan perlahanlahan
di sepanjang pantai pulau yang
berpohon rimbun. Ketika memandang laut yang
bergejolak, ia merasa rindu pada tanah
kelahirannya nun jauh di sana. Ia sudah tidak
melihat tanah kelahiran maupun keluarganya
selama hampir dua puluh tahun—sejak ia
berlayar untuk bertempur dalam Perang Troya. Ia
meratapi nasibnya yang sial setelah perang
berakhir.
Mungkin aku sekarang telah berada di Ithaca,
ia merenung, andai saja orang-orang Yunani
tersebut tidak membuat Athena marah dan
menyebabkan kapal kami menyimpang arah ...
atau bila aku tidak membuat marah Poseidon,
Dewa Lautan, karena telah membutakan mata
anaknya, Cyclops ... atau awak kapalku tidak
membuat marah Dewa Angin ataupun Dewa
Matahari.
0

Odisei 3- Sirens dan Monster Laut - Mary Pope Osborne
Odisei 3- Sirens dan Monster Laut - Mary Pope Osborne
Pada zaman dahulu kala, ada sebuah dunia
misterius yang dikenal dengan nama Gunung
Olimpus. Dunia yang tersembunyi di belakang
sekumpulan awan tebal ini tak pernah tertiup
angin ataupun terguyur hujan. Para penghuni
Gunung Olimpus tidak pernah menjadi tua
ataupun mati. Mereka bukan manusia. Mereka
adalah para dewa dan dewi Yunani yang perkasa.
Para dewa dan dewi Olimpus memiliki
pengaruh besar atas kehidupan umat manusia di
dunia. Pada suatu ketika, kemarahan para dewa
dan dewi ini menyebabkan seorang pria bernama
Odiseus harus berkelana di lautan selama
bertahun-tahun hanya untuk menemukan jalan
pulang.
Tiga ribu tahun yang lalu, untuk pertama
kalinya, seorang penyair Yunani bernama Homer
menceritakan kisah perjalanan Odiseus. Sejak
saat itu, para pendongeng lain turut menceri–
takan kembali kisah perjalanan yang ajaib dan
mengesankan tersebut. Kisah perjalanan ter–
sebut dikenal sebagai Odisei.
0

Odisei 2- Negeri Orang Mati - Mary Pope Osborne
Odisei 2- Negeri Orang Mati - Mary Pope Osborne
Selama berhari-hari, Odiseus, raja Pulau
Ithaca di Yunani, mendayung bersama para
pejuangnya di atas laut yang tenang. Ketika
sedang mendayung, ia merasa kasihan pada
mereka. Ia tahu bahwa mereka tengah
berkabung atas kematian rekan-rekan mereka
yang telah dibunuh oleh si raksasa bermata satu,
Cyclops. Ia tahu mereka juga merasa amat
bersalah atas perbuatan mereka yang bodoh
karena telah membuat marah Dewa Angin.
Sekarang tidak ada angin yang meniup layar
kedua belas kapal Yunani itu.
0

Odisei 1- Raksasa Bermata Satu - Mary Pope Osborne
Odisei 1- Raksasa Bermata Satu - Mary Pope Osborne
Pada zaman dahulu kala di Pulau Ithaca,
Yunani Kuno, hiduplah seorang pria bernama
Odiseus. Meski ia seorang raja di pulau tersebut,
Odiseus menjalani kehidupan yang sederhana. Ia
gemar merawat ladang maupun kebun buah
serta bekerja dengan menggunakan kedua
tangannya sebagai pengrajin dan tukang kayu.
Selain itu, ia sangat menikmati kebersamaan
dengan keluarganya—ayah dan ibunya yang
sudah lanjut usia; Penelope, sang istri tercinta;
dan putranya, Telemakus.
0

Nyimas Humairoh - The True of My Life
Nyimas Humairoh - The True of My Life
Aku hanya menganggap diriku juga
keseharianku sangat membosankan. Siapa
yang mau tahu kisah hidupku yang sama
sekali tak berwarna, penuh dengan gambar
hitam-putih seperti TV zaman dulu?
Tetapi itu dulu. Sekarang... hanya
karena tindakan refleks. Di hari yang sama
sekali tak terduga. Di mana seharusnya aku
sudah mati karena kecelakaan... dan alasan
aku melakukan semua petualangan
membahayakan.
Petualangan yang menakutkan.
Bahkan, seluruh tubuhku tak bisa bergerak.
Dan hanya dapat mematung dengan wajah
pucat pasi saking takutnya. Semua yang
terjadi, semua yang kulihat, kudengar, dan
semua yang aku rasakan saat itu benar-benar
nyata.
Warna merah darah..., keringat,
jeritan kesakitan, dan di balik itu semua... aku
dapat melihat bagian yang gelap. Bagian
yang tergelap dan yang paling dalam dari
pada samudera terdalam. Sebuah kisah gelap
0

Nurrila Iryani - The Marriage Roller Coaster
Nurrila Iryani - The Marriage Roller Coaster
Aku tersenyum melihat bayangan diriku di kaca fitting room. Cantik. No, maksudku dress
Marc Jacobs ini terlihat cantik di tubuhku, seperti memang dibuat khusus untukku.
“Audi, gimana?” Sonya, sahabatku, mengintip dari balik tirai.
“Bagus nggak” tanyaku sambil bergoyang-goyang centil.
Sonya mengamatiku lekat-lekat, “Bagus sih. But don’t you think it’s too expensive?”
“Ini investasi!” jawabku asal.
“Investasi nenek moyang lo!” wajah Sonya kembali menghilang dari balik tirai.
Aku hanya terkekeh. Fokusku kembali pada bayanganku di kaca. I really love this dress. Tapi
benar kata Sonya, this dress is too expensive, harganya hampir sepertiga gajiku ... dan ini
masih awal bulan. Pasti masih akan ada puluhan sesi belanja setelah hari ini.
Argh, kapan sih aku dipromosiin sebagai manajer di kantorku? Aku butuh dana lebih untuk
belanja! Ah sudahlah, buat apa aku kerja kalau aku nggak boleh menikmati hasil jerih
payahku sendiri. Valid? Yes. Toh kalau sampai gajiku bulan ini habis, kan masih ada jatah
belanja dari Rafa, suamiku tercinta. Makin valid? Yes yes yes. Lagipula seperti yang aku
bilang tadi. Ini investasi. Yes, Ladies, say this to yourself, beli pakaian bagus itu investasi.
Mungkin pakaian bagus memang nggak kayak emas yang kemungkinan besar bisa dijual
lebih mahal setelah kamu simpan di lemari selama lima tahun. Tapi percayalah pakaian
bagus bisa membuat kepercayaan diri meningkat berkali-kali lipat. Dan saat percaya diri
sudah meningkat, dampaknya akan besar untuk kehidupan kamu. It will make you feel like
you own the world! Kalau dalam kasusku, kepercayaan diri yang tinggi saat aku mengenakan
pakaian bagus membuatku mampu memberikan presentasi yang memukau ke calon klien.
Kalau kata Syahrini, cetar membahana! Biasanya ini akan berujung dengan keberhasilanku
menjadikan mereka klien baru untuk perusahaan market research tempatku bekerja. Ujung- ujungnya, aku dapat bonus besar tiap tahun di kantor. Masih mau bilang pakaian bagus
bukan investasi? Jelas nggak ada alasan untuk nggak membeli dress cantik ini. Aku melepas
calon dress baruku dan segera menuju kasir. Hello cute dress, you’ll have a new home!
“Mau belanja apa lagi, Nyoya?” Sonya melirik kantong belanjaan di tanganku ketika aku
meninggalkan toko.
“Enough for today. Sisain buat besok-besok,” jawabku sambil tersenyum lebar,
memamerkan deretan gigiku yang rapi.
Sonya hanya menggelengkan kepalanya.
Aku kadang heran, Sonya ini sahabatku sejak kuliah, artinya kita sudah hampir tujuh tahun
sahabatan. Tapi kenapa dia masih belum kebal juga ya melihat kebiasaan belanjaku? Saat
masih kuliah dulu, dengan uang bulanan pas-pasan saja aku sudah hobi belanja sepatu, tas,
dan pakaian. Meskipun kadang aku sampai harus puasa dan nabung berbulan-bulan dulu
untuk membeli barang yang aku inginkan. Jadi, ketika sekarang – saat aku sudah punya
penghasilan sendiri – bakat belanjaku lebih terasah, dia sudah lebih maklum. Badak jawa
juga nggak akan bisa menghalangiku berseliweran dari butik ke butik deh!
“Rafa nggak pernah protes ya lihat belanjaan lo yang harganya selangit gini?”
0

Noel Solitude - Cowok Rasa Apel
Noel Solitude - Cowok Rasa Apel
“Capek juga jadi pengurus OSIS. Udah mau liburan malah
banyak rapat. Makan aja sampai lupa. Berakit-rakit ke hulu,
berenang-renang ke tepian. Sekarang capek dulu, yang penting
liburan nanti pikniknya menyenangkan! We‟ll be going to Bali!”
Kubaca tulisan status di Facebook Erik. Dia baru
menulisnya delapan menit yang lalu.
Namanya juga pengurus OSIS, mana ada yang nggak
sibuk? Atau minimal sok sibuk lah! Yah, aku yakin pasti ada yang
jadi pengurus OSIS cuma buat ajang eksis, biar bisa sok keren
nampang dan mondar-mandir keluar kelas di jam pelajaran dengan
alasan tugas OSIS. Malah kayaknya sih kebanyakan pengurus OSIS
memang anak-anak narsis macam itu. Paling tidak, itulah yang
sering kulihat di sekolah.
Tapi kalau Erik, aku masih percaya dia jadi pengurus OSIS
bukan buat cari sensasi. Dia nggak perlu sok keren, karena dia
memang udah...
KEREEENNN!!!
Di sekolahku, murid cowok kelas satu yang ditaksir bejibun
cewek dari kelas satu sampai senior-senior kelas dua dan kelas tiga,
siapa lagi kalau bukan Erik?! Pengurus OSIS berwajah tampan tanpa
jerawat, berbadan atletis dan serba berbakat dari basket, main
musik, sampai menyanyi...! Bahkan namanya sekarang juga mulai
populer sampai ke sekolah lain. Aku rasa nggak berlebihan kalau aku
menyebutnya sebagai idola di sekolah!
Setelah membaca status Facebook-nya tadi, seperti yang
biasa kulakukan, dengan semangat kukirim komentarku:
“Kalo nggak sempat makan nasi makan pisang aja buat
stok tenaga. Keep the spirit!”
Baru beberapa menit lewat, sudah ada dua komentar yang
mengekor di bawah komentarku...
1

Nicholas Sparks - A Walk to Remember - Kan Kukenang Selalu
Nicholas Sparks - A Walk to Remember - Kan Kukenang Selalu
SEWAKTU aku berusia 17 tahun, hidupku berubah untuk selamanya.
Aku tahu ada orang-orang yang penasaran padaku saat aku mengatakannya. Mereka
menatapku dengan heran seakan mencoba membayangkan apa kiranya yang terjadi ketika itu,
meskipun aku jarang berusaha menjelaskan. Karena aku sudah tinggal di sini selama hampir
seluruh hidupku, aku tidak merasa perlu untuk menjelaskan kecuali kalau aku mau, dan itu akan
menyita waktu lebih lama daripada yang akan disisihkan oleh kebanyakan orang. Kisahku tidak
dapat dirangkum dalam dua atau tiga kalimat saja, tidak dapat dikemas secara ringkas dan
sederhana sehingga orang-orang dapat langsung memahaminya. Meskipun sudah lebih dari
empat puluh tahun, mereka yang masih tinggal di sini dan sudah mengenalku sejak tahun itu
menerima keenggananku dalam menjelaskan tanpa mempertanyakannya. Dalam banyak hal,
kisahku juga boleh dibilang kisah mereka karena merupakan sesuatu yang pernah mempengaruhi
hidup kami semua.
Meskipun aku yang paling terlibat di dalamnya saat itu.
Aku berusia 57 tahun sekarang, namun aku masih bisa mengingat semua yang terjadi di
tahun itu dengan mendetail. Aku masih sering memikirkan kejadian di tahun itu,
membayangkannya kembali. Aku menyadari bahwa setiap kali aku melakukannya, aku selalu
merasakan kombinasi aneh antara kegembiraan dan kesedihan. Ada saat-saat aku berharap dapat
memutar kembali jarum jam dan meniadakan semua kesedihan di sana. Namun perasaanku
mengatakan bahwa kalau aku melakukannya, saat yang menyenangkan juga akan ikut hilang.
Jadai aku menerima semua kenangan itu apa adanya, menerima semuanya, membiarkannya
menuntunku setiap kali aku bisa. Hal ini terjadi lebih sering daripada yang kusadari.
Sekarang tanggal 12 April, setahun sebelum milenium baru, dan aku memandang
sekelilingku saat meninggalkan rumah. Langit tampak gelap dan kelabu, namun sewaktu aku
menyusuri jalanan, aku melihat tanaman dogwoods dan azalea sedang bermekaran. Aku
menaikkan ritsleting jaketku sedikit. Udara terasa sejuk, meskipun aku tahu dalam waktu
beberapa minggu lagi cuaca akan lebih menyenangkan, dan langit yang kelabu akan berangsur
menjadi hari-hari yang membuat North Carolina menjadi salah satu daerah paling cantik di dunia
ini.
Aku menghela napas, dan merasakan semuanya kembali. Mataku terpejam dan tahun-tahun
itu mulai bergerak merasukiku, perlahan-lahan mundur ke masa lalu, seperti jarum jam yang
berputar ke arah berlawanan. Seakan melalui mata orang lain, aku melihat diriku menjadi
semakin lama semakin muda. Aku melihat rambutku berubah dari abu-abu menjadi kecokelatan,
aku merasakan kerutan di sekitar mataku mulai menipis, lengan dan kakiku menjadi liat.
Pelajaran-pelajaran yang kuperoleh seiring dengan bertambahnya usia menjadi semakin samar,
dan kepolosanku muncul sementara tahun yang menentukan itu semakin mendekat.
0

Naura Laily - Tentang Cinta
Naura Laily - Tentang Cinta
Friday I'm in Trouble

-Fanny-
Fanny terkantuk-kantuk mendengar atasannya, Pambudi Suteja, a.k.a Pak Budi, bercuap- cuap tentang rencana kerja sama dgn sjumlah perusahaan seperti PT Indigo Company, PT

Starlight Indonesia, dan PT Surya Persada Jakarta. Sbenarnya, masih ada dua perusahaan lg
yg akan diajak kerja sama, tp Fanny acuh tak acuh dgn smua pembicaraan dlm rapat. Dia
bersikap begitu karna bosnya adalah orang yg menyebalkan. Dia tdk menaruh respek
kepada pria itu. Jika berbicara kpada Fanny, suaranya sok dibuat lembut dan itu
membuatnya risi. Selama sbulan pertama kerja, dia mengamati tingkah bosnya itu, apakah
dia berbuat hal yg sama trhadap karyawan yg lain. Dan, stelah satu bulan brlalu, jawaban yg
didpt adalah tidak. Itu berarti bosnya memperlakukan Fanny secara 'spesial'. Kalau saja Pak
Budi bkn bosnya, dia sudah menjulukinya si Tambun karna tubuhnya bulat dan pendek.

Fanny malas menyimak jalannya rapat. Kertas catatannya dipenuhi dgn coretan2 tdk berarti
yg sengaja dia buat untuk mengusir rasa kantuknya. Sementara matanya sudah demikian
berair lantaran berkali2 menguap. Namun berkali2 itu pula, Fanny dgn sekuat tenaga harus
menyembunyikannya. Entah itu dgn tdk membiarkan mulutnya terbuka atau dgn berpura2
menduduk.

'Aduh, ngantuk bnget,' ucapnya dlm hati sambil menambah sejumlah coretan lg disudut
bawah kertasnya. Permen. Ya, itulah yg terpikir olehnya untuk membuat dirinya tetap
terjaga.
Fanny menegakkan tubuhnya, lalu merogoh saku blazernya dgn harapan menemukan
sbungkus permen yg mungkin saja pernh dia selipkan tanpa sadar sbelumnya. Sayangnya,
dia tak menemukan satu pun.
0

Monica Murphy - One Week Girlfriend
Monica Murphy - One Week Girlfriend
Sinopsis:
"Sementara. Satu kata itu sangat sempurna menggambarkan
kehidupanku beberapa tahun belakangan ini. Aku bekerja pada
pekerjaan sementara hingga akhirnya aku bisa bebas. Aku adalah
ibu sementara untuk adik lelakiku sejak ibu kami tak memperdulikan
kami berdua. Dan aku adalah gadis sementara yang bisa
didapatkan para pria karena aku adalah cewek gampangan.
Menurut rumor, setidaknya.
Namun sekarang aku adalah pacar sementara dari Drew Callahan,
legenda football dan anak emas kampus ini. Dia tampan, manis—
dan dia menyimpan lebih banyak rahasia dari yang aku simpan. Dia
membawaku ke dalam kehidupan palsunya dimana semua orang
kelihatannya membenciku. Dan semua orang kelihatannya
menginginkan sesuatu darinya. Dan kelihatannya, satu-satunya hal
yang diinginkannya adalah...Aku.
Aku tak tahu apa yang bisa kupercaya lagi. Yang kutahu adalah,
kupikir Drew membutuhkanku. Dan aku ingin selalu ada untuknya.
Selamanya."
0

Mira W - Sisi Merah Jambu
Mira W - Sisi Merah Jambu
Wah, Ibu punya kacung baru!" cetus si bungsu Oki begitu melihat ibunya masuk
diikuti oleh seorang anak yang bukan main kotornya.

"Duilah baunya!" Aris memijit hidungnya sambil mengipas-ngipaskan tangannya
untuk mengusir bau yang menyengat. "Orang apa bangke sih?"

"Gerobak sampah!" sambar Oki menahan tawa. "Udah dekil, bau, lagi!"

"Mobil tinja!" sambung Panji, kakaknya yang sulung. "Mandiin dong, Bu! Pake
karbol biar nggak bawa penyakit!"

"Lihat dia mandi, yuk?" usul Oki bersemangat sekali. "Kali badannya ada
belatungnya!"

"Jangan di kamar mandi, Bu.!" sambung Panji jijik. "Di kebon aja! Semprot pake
slang!"

"Nggak usah ngajari Ibu!" gerutu Bu Nani, bising mendengar celoteh anak-anaknya.
"Tuh, temui Ayah! Baru pulang dari pabrik!"

"Dari pabrik sih bawa apaan." dumal Panji. "Paling-paling bawa sampah kayak gini
lagi!"

"Ayah punya pabrik beras apa gembel sih?" celetuk Oki. Senyumnya menyakitkan
sekali.

"Padahal gembel kayak gini ngapain dibawa jauh-jauh dari pabrik?" gerutu Aris jijik.
"Di pasar juga banyak!"

"Ngundang lalat tuh, Bu! Coba deh Ibu gantung di dapur! Sebentar juga diserbu
lalat!"

Ketiga anak laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal. Membuat anak yang
ditertawakan jadi melotot gusar. Kurang ajar! Masa dia mau digantung di dapur
biar dikerubungi lalat? Memangnya ikan asin?
0

Minx Malone - Teasing Trent
Minx Malone - Teasing Trent
Sinopsis:
*Top 100 Kindle Romance Bestseller*
Satu-satunya permintaan dari sahabat baik
Trent yang pernah dilakukan untuknya adalah
untuk mengawasi saudara perempuan kembarnya
saat dia tugas militer di luar negeri. Menemani
Mara pada hari ulang tahunnya pastinya jadi
urusan yang biasa. Yang harus dia lakukan
hanyalah mengingat janji yang dibuat untuk
dirinya sendiri di perguruan tinggi untuk tidak
menyentuh Mara.
Yang mana semakin sulit dari hari ke hari.
Sejak Mara masuk ke kamar asrama mahasiswa
saudara kembarnya dan berhadapan dengan
Trent yang bertelanjang dada, dia tahu dia
adalah orangnya. Dia selalu ada di sana
bersama saudara kembarnya sebagai pendukung
terbesarnya atau bahu tempat menangis.
Masalahnya?
Trent tak tahu bagaimana perasaan dirinya.
Nah, ini adalah ulang tahun pertama tanpa
kembarnya dan Trent yang datang untuk

menemaninya. Sekarang adalah waktu yang
tepat untuk menggodanya sedikit. Mengenakan
pakaian yoga yang minim dan beberapa gelas
anggur, ia berencana untuk membawa Trent ke
tempat yang ia inginkan.
Di tempat tidurnya, selama dia bisa menahannya
di sana.
Jika rencana Mara berhasil, ia akan mendapat
lebih banyak lagi daripada sekedar kartu ucapan
ulang tahun.
*Peringatan*
Buku ini berisi yoga sebagai perangkat
penyiksaan erotis dan penampilan tak terduga
dari vibrator.
Teasing Trent merupakan prequel dari serial The
Alexander yang berjudul Surely this is Magic.
Ini adalah novella, jadi ceritanya to the point
dengan cepat. Tentu kalian ingin novella yang
disukai bisa dibaca lebih lama, tapi cerita ini
masih tetap menghibur dan menyenangkan.
Genre: Novella, Roman, Erotika
0

Mimi Elektrik - Zara Zettira ZR
Mimi Elektrik - Zara Zettira ZR
Teng... teng... teng...
"Ya, kita selesaikan sampai di sini dan jangan lupa
pekerjaan ru..."
Ucapan sang ibu guru tak lagi terdengar lantaran
riuhnya suara kursi dan derap langkah murid-murid
yang berlomba-lomba keluar ruangan kelas lebih dulu.
Tak ada seorang lagi pun yang mengacuhkan pesan
Bu Betty, sang guru fisika.
Tak terkecuali Mimi. Meski sudah memusatkan segala
kecepatan yang dimiliki, tetap saja ia kebagian posisi
juru kunci, alias paling belakang dan selalu diserobot
teman-temannya. Sambil menghela napas maklum,
Mimi membetulkan letak kacamata minus tujuh-nya

yang sering merosot akibat dorongan dan desakan-
desakan teman-teman yang memburu keluar

melewati pintu.
"Hei!" seseorang mencolek bahunya.
Mimi menoleh dan tersenyum kikuk. "Hai, Belia,"
dibalasnya sapaan Bella.
"Mau ke mana? Ke kantin yuk?" ajak Belia manis,
bernada bersahabat.
Mimi terdiam sesaat. Seorang gadis cantik, manis, dan
cukup populer sedang mengajak seorang anak itik
yang dungu dan lamban, batin Mimi. Ya, Belia
memang gadis yang baik. Kecantikan dan
kepopulerannya di sekolah ini tak menjadikannya
sombong. Sementara teman-teman yang lain
menganggap Mimi aneh dan enggan menegur, apalagi
mengajak Mimi ikutan dalam suatu kegiatan.
"Ayolah," ajak Belia sambil menarik tangan Mimi.
"Kalau kau..."
"Bel... cepetan dong, lama amat sih," panggil Kiki, salah
satu gadis dalam kelompok Belia. Kelompok yang
terkenal lantaran anggotanya terdiri dari gadis-gadis
manis dan modis.
Lewat tatapan mata Kiki, Mimi dapat merasakan
bahwa keikutsertaannya tidak diharapkan dan
kehadirannya tak diinginkan oleh anggota kelompok
yang lain.
"Aku... eh... lain kali sajalah," tolak Mimi seperti

biasanya dengan kikuk dan kepala agak tertunduk-
tunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.

"Bel, cepet...!" panggil Kiki.
Belia memandang ke arah Mimi dan Kiki bergantian
beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk
mengikuti Kiki.
"Bener lho, Mi... lain kalinya?" Belia pura-pura
merengut.
Mimi tersenyum lalu mengangguk dan segera berlalu
dari hadapan mereka. Ia lebih suka melewatkan
waktu makan siang di perpustakaan atau di taman
sambil memakan bekal roti yang dibawanya dari
rumah. Baginya kumpul-kumpul dan ngobrol di kantin
adalah sesuatu yang hanya membuatnya merasa
tidak enak, risi, dan malu. Sebab semua orang akan
memperhatikan dirinya begitu ia masuk ke sana.
Sambil melangkah Mimi terus memikirkan
keadaannya. Bukan ia yang minta menjadi gadis kutu
buku berkacamata minus tebal dan berpribadi pemalu,
tertutup seperti ini. Entah siapa yang salah.... Yang
jelas, selama 16 tahun ia telah tumbuh menjadi Mimi
yang lamban, kutu buku, tak pandai bergaul, dan
punya selera yang aneh dalam memilih penampilan.
Mimi memasuki taman sambil mulai mencari-cari
sudut yang lengang dan kursi yang kosong. Sekolah
swasta ini dikelola oleh yayasan Katolik, sehingga
selain kompleks sekolah, terdapat juga kompleks
biarawati. Dan taman ini sebenarnya adalah milik
para biarawati itu. Akan tetapi siapa saja boleh
memasukinya asalkan tidak merusak, bikin kotor,
atau bikin onar.
0

The Da Vinci Code Bahasa Indonesia
Museum Louvre, Paris
10:46 Malam
KURATOR TERKENAL Jacques Saunière menatap jauh melintasi selasar
berongga Galeri Agung Museum Louvre. Ia menerjang lukisan terdekat yang
dapat ia lihat, lukisan Caravaggio. Dengan mencengkeram bingkai bersepuh
emas itu, lelaki berusia 76 itu merenggutkan mahakarya itu ke arah dirinya.
Lukisan itu terlepas dari dinding, dan Saunière terjengkang di bawah kanvas.
Seperti yang telah ia perkirakan, gerbang besi jatuh bergemuruh di dekatnya,
menghalangi pintu masuk ke ruangan suite itu.
Lantai parket bergetar. Di kejauhan, sebuah alarm mulai berdering.
Sang kurator terbaring sebentar, tersengal-sengal, mengumpulkan tenaga.
Aku masih hidup. Ia merangkak keluar dari bawah kanvas, dan memindai
ruangan seperti gua itu, mencari-cari tempat untuk sembunyi.
Seseorang bicara, dekat dan mengerikan. “Jangan bergerak!”
Dengan bersitumpu pada tumit dan tangannya, sang kurator membeku,
perlahan memalingkan kepalanya ke arah suara itu. Hanya lima belas kaki
jauhnya, di luar gerbang yang tertutup, sebuah siluet raksasa dari
penyerangnya menatap menembus jeruji besi. Lelaki itu sangat lebar dan
tinggi, dengan kulit sepucat hantu, dan uban tipis di rambutnya. Bola matanya
tampak merah. muda, dengan pupil berwarna merah gelap. Si albino mencabut
pistol dan jasnya, dan membidikkan moncongnya melewati jeruji, langsung
kepada sang kurator. “Kau mestinya tau Ian.” Aksennya sukar ditentukan dari
mana asalnya. “Sekarang, katakan di mana.”
https://www.download-pdf.ikhsan.my.id/p/forbidden.html

Forbidden

0

Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara
Pesan dari Masa Silam
Washington DC, Desember 2003, jam 16.00

Iseng saja aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh
permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin
segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik kerai
tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpalgumpal
seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukanketukan
halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca
di depanku. Matahari sore menggantung condong ke barat
berbentuk piring putih susu.

Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika
Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan
tonggak-tonggak besar. Kubah raksasanya yang berundakundak
semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan
kopiah haji. Di depan gedung ini, hamparan pohon american
elm yang biasanya rimbun kini tinggal dahan-dahan tanpa
daun yang dibalut serbuk es. Sudah 3 jam salju turun. Tanah
bagai dilingkupi permadani putih. Jalan raya yang lebar-lebar
mulai dipadati mobil karyawan yang beringsut-ingsut pulang.
Berbaris seperti semut. Lampu rem yang hidup-mati-hidupmati
memantul merah di salju. Sirine polisi—atau ambulans—
sekali-sekali menggertak diselingi bunyi klakson.

Udara hangat yang berbau agak hangus dan kering
menderu-deru keluar dari alat pemanas di ujung ruangan.
Mesin ini menggeram-geram karena bekerja maksimal. Walau
begitu, badan setelan melayuku tetap menggigil melawan
suhu yang anjlok sejak beberapa jam lalu. Televisi di ujung
ruang kantor menayangkan Weather Channel yang mencatat
suhu di luar minus 2 derajat celcius. Lebih dingin dari secawan
es tebak di Pasar Ateh, Bukittinggi.
https://www.download-pdf.ikhsan.my.id/p/forbidden.html

Forbidden


0

Mia Arsjad - Miss Cupid
Mia Arsjad - Miss Cupid
MISS CUPID

TINKA tersenyum lebar di depan kaca. Giginya yang putih dan kecil-kecil
berderet rapi. Sambil menyiulkan lagu New York New York-nya Frank
Sinatra, jari-jari lincah Tinka menyisir rambut cepaknya yang berwarna
cokelat tua keemasan.

Sambil terus bersiul-siul sampai bibirnya monyong, jemari mungilnya
meraup hair gel dari meja, menyapukan ke rambutnya, dan cling! Rambut
cepak trendinya langsung berdiri alias rancung-rancung.

“Ka, lo lama banget sih?” tiba-tiba Dika, adik cowoknya, sudah berdiri di
depan pintu sambil cemberut. Ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai tak
sabar.

Memang seminggu terakhir setiap pagi Tinka rutin bersiul sepanjang satu
lagu. Kalau belum beres satu lagu, dia nggak bakal berangkat ke sekolah.
Alhasil, Dika yang kebagian telat karena selalu nebeng Tinka.

“Ih, sewot! Lo kan udah tau gue selalu-dan-mesti-menjalani rutinitas bersiul
satu lagu setiap pagi,” sahut Tinka di sela-sela siulannya. “Lagian kan lo
yang nebeng gue. Kalo nggak mau nunggu, naek angkot sana,”
sambungnya judes.

Dika mencibir kesal. “Lagian apa gunanya sih, kegiatan siul-siul lo itu?”

Siulan Tinka makin kencang. Bibirnya maju sampe tiga sentimeter, pake
ada gerimisnya, lagi.
0

Mia Arsjad - Jun!!!
Mia Arsjad - Jun!!!
''Serius? Jadi kalian nggak bakal SMA di Jakarta?'' Dira menatap Mayang dan Irwan,
dua dari ketiga sahabat segengnya.
Mayang dan Irwan mengangguk kompak. Mereka berdua sudah pasti meninggalkan
Jakarta begitu lulus SMP. Satu ke luar negeri, satu ke luar kota. Itu berarti cuma Dira
dan Juna yang kemungkinan besar bakal terus sekolah di ibu kota yang kejam
seperti ibu tirinya Cinderella ini.
Mendadak Dira sedih. Mereka adalah kumpulan kutu buku yang langsung kompak
sejak masuk SMP. Nggak ada yang nggak seru kalau dijalankan berempat. Dira
yang manis, ceroboh, dan cerewet; Mayang yang teratur dan rapi; Irwan yang hobi
sepak bola; dan Juna yang ganteng, sang pemberontak dengan otak superencer,
kocak, dan anti kekerasan; mereka semua disatukan oleh hobi baca dan nonton film.
Mulai dari berburu novel, nonton film DVD, nonton hemat di bioskop, dan bikin tugas
bareng, semua menyenangkan kalau dilakukan berempat.
''Jadi sedih...,'' Dira berkata pelan.
''Eh, jangan sedih dong. Sekarang kan zaman modern. Ada e-mail, fb, messenger.
Kita tetep bisa kontak kok,'' kata Irwan semangat.
Mayang mengangguk setuju. ''Irwan bener. Jangan sedih dong. Sekarang kita tos
kompak dulu yuk!'' Mayang mengulurkan telapak tangannya ke tengah-tengah
mereka. ''Tos kompak!''
''Tos!'' Irwan meletakkan tangannya di atas tangan Mayang.
Sambil berusaha mengurangi kesedihan, Dira melatakkan tangannya di atas telapak
tangan Mayang, dan jantung Dira nyaris meledak waktu Juna meletakkan tangannya
di atas tangan Dira. Tangan Juna yang hangat bikin wajah Dira mamanas.
''Nah, kalo gue sama Irwan pergi, berarti tinggal Juna sama Dira di Jakarta. Kalian
harus tetep kompak ya. Kalo sampe pacaran juga nggak papa kok. Hihihi..'' Mayang
cekikikan.

Candaan Mayang langsung bikin Dira dan Juna refleks saling tatap sekilas. Super-
sekilas, lalu sama-sama salting dan pura-pura melihat ke arah lain.

''Oke. Kita tos! Mayang, Irwan, Juna, dan Dira... kutu buku paling asyik, bersahabat
selamanya!!!''
Lalu mereka berempat mengangkat tangan ke udara.
PYARRR!!!
Seperti biasa, tangan si ceroboh di angkat tanpa lihat arahdan menyambar cangkir
teh manis panas di meja tamu pendek di ruang TV Irwan. ''AUWHHH! PANASSS!''
''Ya ampun. Lo nggak papa, Ra?'' Dan seperti biasa juga, Juna langsung maju
duluan dengan panik.
Dira mengibas-ngibaskan tangannya yang terkena teh panas. ''Nggak, nggak papa.
Cuma kena panas sedikit.''
Juna membolak-balik tangan Dira. ''Agak merah sih... Gue beliin obat dulu, ya? Kalo
nggak, tangan lo bisa bengkak. Nanti berabe kalo konser tunggal piano lo batal.
Dira mendelik. ''Kurang ajar,'' protes Dira cemberut. Dia paling sebal kalau diledekin
soal musik. Semua juga tahu Dira paling payah mainin alat musik. Satu-satunya alat
musik yan bisa dia mainkan cuma pianika.
0

Nawa N.S - Kemelut hati
Nawa N.S - Kemelut hati
Nasiyah menguak jendela kamarnya perlahan. Ia menatap burung-burung kecil yang lincah.
Sayap-sayapnya begitu ringan berkepakan di udara. Cakar-cakar mungil itu tak lelah
berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Sesaat bertengger di pohon dadap, lalu pindah ke
dahan kopi, ke cabang-cabang cengkih, ke pelepah-pelepah kelapa.
Suara burung-burung itu berdengung di telinga Nasiyah, membuat hatinya makin teriris,
memuing di atas bantal berenda mawar ungu.

Ya, sudah saatnya ia meredam ambisi. Keinginan menggebu untuk melanjutkan pendidikan
harus ia telan. Semangat yang harus ia kubur dalam-dalam bersama segala kenangan indah di
masa lalunya.

Satu minggu, dua minggu, tiga puluh lima hari lagi! Hari dan tanggalnya sudah ditetapkan
melalui rundingan para orang tua semalam. Kamis Pahing, dua puluh empat Jumadilakir, adalah
hari baik yang telah disepakati, baik oleh tetua dari pihak Nasiyah maupun Diman, sebagai hari
ijab kabul mereka.

Sejak saat itu statusnya berubah. Ia bukan lagi Nasiyah, melainkan Bu Diman, istri seorang guru
sekolah dasar.
“Selamat pagi, Bu Guru.” Demikian orang-orang desa akan menyapanya. Memang, di desa
Nasiyah ini sudah menjadi perjanjian tak tertulis, bahwa seorang perempuan yang menjadi istri
guru, secara otomatis dipanggil Bu Guru, meskipun ia tidak bekerja.
0

Mata Elang
Mata Elang
“Pelajaran kosong”. Tanyakan pada pelajar SMA manapun, kata-kata ini nilainya tinggi sekali,
jauh lebih tinggi daripada “batal ulangan” sekalipun. Mungkin kata-kata yang bisa menandingi
nilai “pelajaran kosong” hanyalah “dua jam pelajaran kosong”. Itulah sebabnya suasana kelas
hari ini ramai sekali. Keramaian ini dimulai saat mereka mendengar bahwa guru biologi, Bu
Tanti, tidak bisa mengajar hari ini karena sakit. Itu berarti, dua pelajaran penuh, dua kali 45
menit, mereka bebas dari pengawasan guru. Guru-guru yang lain sibuk mengajar. Bu Tanti
memberikan tugas meringkas dua bab dari buku diktat. Tapi rasanya murid-murid tidak ada
yang menganggap penting tugas itu sekarang. Yang penting sekarang adalah pelajaran
kosong, dan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
”Kalian bisa diam, tidak?” tiba-tiba saja Bu Mirna, yang sedang mengajar ekonomi di kelas
sebelah, masuk ke dalam kelas. Murid-murid cepat-cepat kembali ke tempat duduknya
masing-masing. Bertepatan dengan itu, Pak Yusril, kepala sekolah SMA Antonius mengetuk
pintu kelas.
“Terima kasih, Bu Mirna. Saya akan jaga di kelas ini,” kata Pak Yusril.
Ada seorang laki-laki yang membuntutinya.
“Anak-anak, ini Pandu. Mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas 2C ini. Tolong perlakukan
dia dengan baik. Pandu, ceritakan sedikit tentang dirimu sehingga teman-teman barumu bisa
mengenalmu lebih baik,” kata Pak Yusril.
“Nama saya Pandu. Pandu Prasetya. Saya pindahan dari SMA Mataram di Yogyakarta. Ayah
saya polisi, baru saja selesai tugasnya di Yogya, dan dipindah ke Semarang ini. Saya anak
bungsu dari 5 bersaudara, kakak saya laki-laki semua. Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa
ayah saya memberi nama Pandu padahal saya anak bungsu? Kakak-kakak saya semua
bernama Pandu. Jadi kalo ada yang naksir saya, mau telepon ke rumah, carinya Pandu
Prasetya. Kalo nggak nanti pada bingung Pandu yang mana.” kata Pandu tanpa malu-malu
dengan gaya yang ramah dan kocak.
“Huh,” gersah Niken yang duduk di samping jendela, “Pe-de benar cowok satu ini. Lagaknya
sok ganteng”, batinnya.
“Nik, cakep yach tu cowok,” Wulan yang duduk di sebelahnya berbisik.
“Cakep apanya, ah?”
“Bagaimana sih kamu? Perawakannya tegap, tinggi lagi. Rambutnya keren. Ketahuan lah kalau
bapaknya polisi. Matanya seperti mata elang...” bisik Wulan, mulai berandai-andai.
“Seperti mata jangkrik.” sahut Niken asal-asalan.
“Niken!” panggil Pak Yusril.
“Ya Pak!” Mendengar namanya dipanggil, Niken sontak berdiri. “Aduh, jangan-jangan Pak
Yusril mendengar percakapanku dengan Wulan?”
“Kamu ketua kelas, saya ingin kamu duduk dengan Pandu. Wulan, kamu pindah di samping
Arya. Pandu, kamu duduk di samping Niken.”
“Baik, Pak.” sahut Wulan dan Pandu hampir bersamaan.
“Duh, sial! Kenapa pula si jangkrik itu musti duduk di sebelahku? Benar-benar sial.” gerutu
Niken dalam hati sambil duduk kembali.
0

Maria Jaclyn - de Buron
Maria Jaclyn - de Buron
PINTU jati itu menjeblak terbuka, kemudian seorang cowok berhambur keluar dengan
panik. Wajahnya tampak pucat dan tegang. Rambutnya basah gara-gara keringat, begitu juga
seluruh wajahnya. Namun bukan itu yang dipikirkannya sekarang. bukan juga parfum di
kausnya yang sudah bercampur keringat dan mengeluarkan bau yang mungkin sanggup
membunuh semua binatang liar di dunia. Satu-satunya gambar yang memenuhi kepalanya
sekarang cuma isi kamar yang baru saja dilihatnya. Mengerikan. Sungguh.

Ia menoleh ke kanan-kiri dengan panic, kemudian memutuskan segera berlari dari tempat itu. Ia
menuruni tangga sepi yang tidak mungkin terjadi selain di tengah malam atau di waktu makan
siang seperti ini, melewati meja-meja penuh kertas bertebaran yang pemiliknya sedang asyik
melahap nasi uduk atau nasi goreng di warung terdekat. Terus berlari keluar dari kantor itu.

Jantungnya berdebar keras, seakan-akan ada seseorang yang menyalakan house music bervolume
tinggi tepat di sebelah telinganya. Yang pasti, saat itu ia tidak sempat berpikir sedikit pun
mengenai apa kata cewek-cewek jika melihatnya berpenampilan kumal seperti ini dan berlari
keluar dari sebuah kantor dengan gerak-gerik ala pencuri yang habis merampok uang miliaran
rupiah. Ia benar-benar tidak peduli, karena yang terjadi jauh lebih mengerikan dari sekadar
pencurian.

Berulangkali cowok itu bergumam sendiri. Setengah mati berharap tidak ada orang yang
melihatnya keluar dari kantor itu. Namun ternyata malang nasibnya. Seorang office boy yang
tidak pergi makan (dalam rangka diet karena ditolak cewek kesukaannya dengan alasan orang
gendut selalu bau keringat) baru saja keluar dari gudang ketika cowok itu keluar dari pintu ruang
direktur.

Begitu anak muda yang berlari pergi itu tidak kelihatan lagi, sang office boy segera menghampiri
ruang direktur dengan heran—sambil bergumam semangat anak muda yang bikin iri, mereka
masih punya semangat berlari-lari di siang bolong superterik seperti ini—dan mengetuk pintu
yang sedikit terbuka.

Tidak ada jawaban.
0

Marga T - Tessa
Marga T - Tessa
Asrama mahasiswa itu sangat luas, ter-diri lebih dari tiga puluh blok.
Masing-masing blok bertingkat lima dan setiap tingkat mempunyai tiga puluh
delapan kamar. Tidak mengherankan bila banyak di antara penghuni yang tidak
saling ken a I, apalagi orang-orang Ba-rat memang tidak beg itu usil terhadap
urusan orang lain.
Tesa sudah hampir setahun di Perth, namun kenalannya boleh dibilang cuma
terbatas pada kawan-kawan setingkat yang kerap dijumpainya di da pur. Atina
dan Sabita merupakan kawan eratnya, sama-sama dari Jakarta. Pika, toman
Sabita, Juga menempati tingkat yang sama, tapi dia sudah hampir tiga tahun di
situ, Jadi sudah lebih biasa dengan kehidupan asingnya.
Tesa kerap kali merasa rindu pada rumah, terlebih kalau dia teringat apa
yang menyebab-kan dia pergi merantau sejauh itu. Memang/ terhadap
orangtuanya dia berdalih tidak lulus Sipenmaru, ya sobaiknya belajar saja ke
luar
negeri, toh biayanya tak bed a banyak dengan perguruan tinggi swasta.
0
 
Download PDF