Loading...

Mia Arsjad - Jun!!!

Mia Arsjad - Jun!!!
Mia Arsjad - Jun!!!
''Serius? Jadi kalian nggak bakal SMA di Jakarta?'' Dira menatap Mayang dan Irwan,
dua dari ketiga sahabat segengnya.
Mayang dan Irwan mengangguk kompak. Mereka berdua sudah pasti meninggalkan
Jakarta begitu lulus SMP. Satu ke luar negeri, satu ke luar kota. Itu berarti cuma Dira
dan Juna yang kemungkinan besar bakal terus sekolah di ibu kota yang kejam
seperti ibu tirinya Cinderella ini.
Mendadak Dira sedih. Mereka adalah kumpulan kutu buku yang langsung kompak
sejak masuk SMP. Nggak ada yang nggak seru kalau dijalankan berempat. Dira
yang manis, ceroboh, dan cerewet; Mayang yang teratur dan rapi; Irwan yang hobi
sepak bola; dan Juna yang ganteng, sang pemberontak dengan otak superencer,
kocak, dan anti kekerasan; mereka semua disatukan oleh hobi baca dan nonton film.
Mulai dari berburu novel, nonton film DVD, nonton hemat di bioskop, dan bikin tugas
bareng, semua menyenangkan kalau dilakukan berempat.
''Jadi sedih...,'' Dira berkata pelan.
''Eh, jangan sedih dong. Sekarang kan zaman modern. Ada e-mail, fb, messenger.
Kita tetep bisa kontak kok,'' kata Irwan semangat.
Mayang mengangguk setuju. ''Irwan bener. Jangan sedih dong. Sekarang kita tos
kompak dulu yuk!'' Mayang mengulurkan telapak tangannya ke tengah-tengah
mereka. ''Tos kompak!''
''Tos!'' Irwan meletakkan tangannya di atas tangan Mayang.
Sambil berusaha mengurangi kesedihan, Dira melatakkan tangannya di atas telapak
tangan Mayang, dan jantung Dira nyaris meledak waktu Juna meletakkan tangannya
di atas tangan Dira. Tangan Juna yang hangat bikin wajah Dira mamanas.
''Nah, kalo gue sama Irwan pergi, berarti tinggal Juna sama Dira di Jakarta. Kalian
harus tetep kompak ya. Kalo sampe pacaran juga nggak papa kok. Hihihi..'' Mayang
cekikikan.

Candaan Mayang langsung bikin Dira dan Juna refleks saling tatap sekilas. Super-
sekilas, lalu sama-sama salting dan pura-pura melihat ke arah lain.

''Oke. Kita tos! Mayang, Irwan, Juna, dan Dira... kutu buku paling asyik, bersahabat
selamanya!!!''
Lalu mereka berempat mengangkat tangan ke udara.
PYARRR!!!
Seperti biasa, tangan si ceroboh di angkat tanpa lihat arahdan menyambar cangkir
teh manis panas di meja tamu pendek di ruang TV Irwan. ''AUWHHH! PANASSS!''
''Ya ampun. Lo nggak papa, Ra?'' Dan seperti biasa juga, Juna langsung maju
duluan dengan panik.
Dira mengibas-ngibaskan tangannya yang terkena teh panas. ''Nggak, nggak papa.
Cuma kena panas sedikit.''
Juna membolak-balik tangan Dira. ''Agak merah sih... Gue beliin obat dulu, ya? Kalo
nggak, tangan lo bisa bengkak. Nanti berabe kalo konser tunggal piano lo batal.
Dira mendelik. ''Kurang ajar,'' protes Dira cemberut. Dia paling sebal kalau diledekin
soal musik. Semua juga tahu Dira paling payah mainin alat musik. Satu-satunya alat
musik yan bisa dia mainkan cuma pianika.
Loading...

No comments:

Post a Comment