Loading...

Nawa N.S - Kemelut hati

Nawa N.S - Kemelut hati
Nawa N.S - Kemelut hati
Nasiyah menguak jendela kamarnya perlahan. Ia menatap burung-burung kecil yang lincah.
Sayap-sayapnya begitu ringan berkepakan di udara. Cakar-cakar mungil itu tak lelah
berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Sesaat bertengger di pohon dadap, lalu pindah ke
dahan kopi, ke cabang-cabang cengkih, ke pelepah-pelepah kelapa.
Suara burung-burung itu berdengung di telinga Nasiyah, membuat hatinya makin teriris,
memuing di atas bantal berenda mawar ungu.

Ya, sudah saatnya ia meredam ambisi. Keinginan menggebu untuk melanjutkan pendidikan
harus ia telan. Semangat yang harus ia kubur dalam-dalam bersama segala kenangan indah di
masa lalunya.

Satu minggu, dua minggu, tiga puluh lima hari lagi! Hari dan tanggalnya sudah ditetapkan
melalui rundingan para orang tua semalam. Kamis Pahing, dua puluh empat Jumadilakir, adalah
hari baik yang telah disepakati, baik oleh tetua dari pihak Nasiyah maupun Diman, sebagai hari
ijab kabul mereka.

Sejak saat itu statusnya berubah. Ia bukan lagi Nasiyah, melainkan Bu Diman, istri seorang guru
sekolah dasar.
“Selamat pagi, Bu Guru.” Demikian orang-orang desa akan menyapanya. Memang, di desa
Nasiyah ini sudah menjadi perjanjian tak tertulis, bahwa seorang perempuan yang menjadi istri
guru, secara otomatis dipanggil Bu Guru, meskipun ia tidak bekerja.
Loading...

No comments:

Post a Comment