Loading...

Kevin Kwan - Crazy Rich Asians
Kevin Kwan - Crazy Rich Asians
Nicholas Young slumped into the nearest seat in the hotel lobby, drained
from the sixteen-hour flight from Singapore, the train ride from
Heathrow Airport, and trudging through the rain-soaked streets. His
cousin Astrid Leong shivered stoically next to him, all because her
mother, Felicity, his dai gu cheh—or “big aunt” in Cantonese—said it was
a sin to take a taxi nine blocks and forced everyone to walk all the way
from Piccadilly Tube Station.
Anyone else happening upon the scene might have noticed an
unusually composed eight-year-old boy and an ethereal wisp of a girl
sitting quietly in a corner, but all Reginald Ormsby saw from his desk
overlooking the lobby were two little Chinese children staining the
damask settee with their sodden coats. And it only got worse from there.
Three Chinese women stood nearby, frantically blotting themselves dry
with tissues, while a teenager slid wildly across the lobby, his sneakers
leaving muddy tracks on the black-and-white checker board marble.
Ormsby rushed downstairs from the mezzanine, knowing he could
more efficiently dispatch these foreigners than his front-desk clerks.
“Good evening, I am the general manager. Can I help you?” he said
slowly, over-enunciating every word.
“Yes, good evening, we have a reservation,” the woman replied in
perfect English.
Ormsby peered at her in surprise. “What name is it under?”
“Eleanor Young and family.”
was crazy rich asians filmed in singapore
which crazy rich asians character are you
why crazy rich asians is important
will crazy rich asians be on netflix
after credits
after scene
behind the scene
by kevin kwan
come out
for kids
for free
for rent
in theaters
in chinese
in theaters near me
in china
in spanish
in real life
in singapore
in 2 minutes
in korea
mid credit scene
near me
on demand
on dvd
on ellen
on rotten tomatoes
on itunes
post credits
post credits scene
pre screening
book
trailer
showtimes
box office
release date
soundtrack
full movie
near me
after credits
author
awkwafina
audiobook
actors
amazon
alamo drafthouse
austin
budget
book series
book 2
box office sales
book pdf
book review
buzzfeed
blu ray
characters
credits
cinemark
china
common sense media
chicago
china release
cast kris aquino
cost
dvd
director
duration
dvd release date
dc
dress
date
dallas
denver
download movie
ending
end credits
earnings
emerald ring
edwards
engagement ring
ellen
end scene
eddie
ending song
fandango
full movie for free
film
free
fashion
full cast
filming locations
fanfiction
grossing
gif
genre
grandma
georgetown
game
gemma
guy
gateway
glorious
how long
harry shum jr
houston
house
hollywood reporter
hotel
hardcover
hong kong
henry
in theaters
interview
in chinese
ipic
instagram
itunes
in theaters near me
in china
images
jewelry
joy luck club
jimmy o yang
japan
jet li
jon chu
john cho
japan release
jane austen
jezebel
kris aquino
kevin kwan
kids
kindle
kina grannis
ken jeong
kris aquino role
kitty pong
kids in mind
korea
length
locations
los angeles
landmark
london
las vegas
logo
last scene
language
lead
movie
movie times
movie review
movie trailer
movie length
movie near me
music
metacritic
movie box office
netflix
nyc
novel
nick
new york
news
nytimes
new yorker
nyc showtimes
opening
on netflix
opening scene
opening weekend
on demand
ost
outfits
oliver
on dvd
oakland
playing near me
plot
preview
premiere
post credit
poster
parents guide
producer
portland
plugged in
quotes
quiz
quotes movie
quotes astrid
running time
release
reddit
regal
ring
revenue
real life
rachel
showing
series
synopsis
showing near me
seattle
singapore
songs
times
theater
tickets
trailer 2
trailer song
true story
the movie
twitter
uk
union square
uk release date
usc
uk box office
uk premiere
us
uk release
us box office
uk review
vanity fair
vox
vietsub
vulture
vancouver
variety
vogue
vietnam
vudu
vinyl
wedding
wiki
wedding dress
watch
wedding song
wedding singer
writer
wardrobe
watch movie
wedding water
xiaxue
crazy rich asian xem online
crazy rich asian cast
crazy rich asian xem
crazy rich asian fiona xie
crazy rich asian bioskop xxi
crazy rich asian movie indo xxi
youtube
yellow lyrics
yellow song
yellow letter
yellow scene
young family
yahoo
yellow coldplay
zurich
1080p
lot 1 crazy rich asian
2018
2nd book
25 years
2 movie
2 book
720p

Kevin Kwan - Crazy Rich Asians - Bahasa Indonesia (Half)
0

Risnawati Tambunan - Pariban Dari Amrik
Risnawati Tambunan - Pariban Dari Amrik
CHAPTER 1: PARIBAN UNTUK MONANG
Pariban dari Amrik itu dalam bayangan Monang pasti cantik

serta berwajah indo. Setiap hari Monang mulai sibuk bertanya-
tanya dan membayangkan wajahnya. "Yu...!" Monang membujuk.

Suaranya mendadak serak.
"Psstt... sudahlah!" "Dengarkan penjelasanku!" "Who care?"
"Tapi kamu perlu tahu!"
"Aku sudah tahu!" Ayu mendelik ke arah Monang dengan
tampang dibuat sejudes mungkin. "Tapi aku kecewa banget,
Nang! Kenapa cerita ini justru aku dengar dari mulutnya si
Ozot. Bukannya dari kamu. Apa kamu merasa nggak perlu
ngasih tahu ke aku?"
"No, bukan begitu, Yu!" Monang menggaruk-garuk rambut
ikalnya. "Aku... belum saatnya kuberi tahu!"
"Atau kamu takut aku bakal bunuh diri begitu mendengar
pengakuanmu?" Ayu mencibir kesaL "Nggak akan!"
"Nggak!" Monang cepat menggeleng. Wajahnya yang tampan
dan berkesan kekanakan itu sedikit memucat demi mendengar
kata 'bunuh diri'. "Aku tahu, apalah artiku bagimu. Kehilangan
seorang Hamonangan Simbolon nggak akan sampai membuatmu
down. Aku tahu itu. Jangan kata sampai bunuh diri, mengurangi
nafsu makanmu saja, kamu nggak akan kan?"
"Aku nggak suka omongan seperti itu, Nang!" Tiba-tiba Ayu
membuang muka. "Ini karena kamu juga, kan?"
Monang terdiam. Seperti menyimak dalam sesal.
0

Risnawati Tambunan - Kemarin Hari Ini dan Esok
Risnawati Tambunan - Kemarin Hari Ini dan Esok
http://inzomnia.wapka.mobi
Mereka bersahabat sejak kecil walaupun kehidupan mereka
bagai langit dan bumi.
Sudah lama sebenarnya aku ingin membawamu 'lari'. Sejak kau
masih tinggal di "istana" itu. Sebuah rumah toko bertingkat
tiga dengan pagar besi yang kaku, bisu. Sudah sejak lama. Kala
itu aku selalu mampir di depan rumah itu, melemparkan sebuah
koran lewat pintu pagar.
"Koran!" teriakku membelah pagi. Hampir pukul tujuh.
Yang pertama keluar, seperti biasanya, adalah Engkongmu.
Laki-laki tua itu melambaikan tangannya kepadaku. Masih
dengan balutan piyamanya.
Aku memutar sepeda bututku, tapi masih sempat melirik ke
lantai tiga bangunan. Di balkon itu biasa kau berdiri,
mencibirku sekilas dan membuang muka. Kau sudah siap dengan
seragam sekolahmu.
Sementara aku masih harus mengantarkan koran pagi kepada
lima rumah lagi. Selesai itu, aku bergegas pulang ke rumah.
Mengganti bajuku dengan seragam sekolah. Sarapan seadanya
dan kembali kukayuh sepeda.
"Hati-hati, Coky!" teriakan Emak dari dapur sering hanya
kudengar sayup-sayup.
http://inzomnia.wapka.mobi KOleksi
0

Ririn - Cintai Gue Kalo Berani!
Ririn - Cintai Gue Kalo Berani!
Cinderella... Oh Cinderella...

SD Harwa akan mengadakan pentas kesenian yang dihadiri semua orangtua siswa. Siang ini
saatnya Bu guru memilih pemeran dalam acara tersebut. Kelas yang sedang ramai dengan suara
anak-anak di siang itu adalah kelasnya Alendra dan saudaranya, Ditha.
"Oke. Sekarang siapa yang mau jadi Cinderella maju ke depan kelas," ucap Bu guru yang berdiri
di dekat papan tulis.
Beberapa saat tidak ada anak-anak yang mau maju, entah karena malu atau malas. Tapi Alendra
yang terkenal pemberani maju ke depan kelas.
"Saya mau, Bu." Dengan percaya dirinya, Alendra tunjuk tangan dan maju.
"Huu...!" Sorak anak-anak sekelas, terutama anak laki-laki.
"Ada lagi yang mau jadi calon Cinderella ?" Bu guru menambahkan.
Ini dia si ekor Alendra, Ditha. Akhirnya Ditha maju dengan malu-malu dan berdiri di sebelah
Alendra sambil memegang tangan Alendra. Meskipun kembar, tapi peribahasa 'bagai pinang
dibelah dua' nggak berlaku buat mereka. Alendra bisa dengan tenang berdiri di depan kelas tanpa

beban. Sedangkan untuk berdiri aja, Ditha masih belum tegap dan gemetaran. Nggak usah jauh-
jauh, dari penampilan aja udah ketahuan perbedaan di antara mereka. Alendra memiliki potongan

rambut pendek dengan model bob, sedangkan Ditha terlihat lebih mungil dengan rambut panjang
sepunggungnya.
Nggak lama kemudian, dua anak perempuan ikutan maju dengan ragu-ragu.
"Nah.....siapa yang setuju kalo Monic jadi Cinderella? Ayo angkat tangan," bimbing Bu guru. Bu
guru pun menghitung suara yang dikumpulkan untuk Monic. Hasilnya ada lima suara.
"Sekarang siapa yang setuju dengan Jessica?" lanjut Bu guru. Nggak berbeda jauh dari hasil yang
diperoleh Monic, Jessica mendapatkan enam suara.
“Nah, kalo untuk Ditha?” Kali ini tangan yang terangkat lebih banyak dari sebelumnya, lebih
dari 10 tangan. Menyadari keadaannya, Alendra sempat menunduk sedikit karena kecewa.
“Bu, saya setuju kalo Alendra yang jadi Cinderella!” seru salah seorang anak yang duduk di
pojok belakang sana. Dia adalah teman sebangku Alendra. Hanya dia yang memberikan suara
untuk Alendra.
0

Richelle Mead - Vampire Academy
Richelle Mead - Vampire Academy
AKU MERASAKAN KETAKUTANNYA sebelum mendengar jeritannya.
Mimpi buruknya berdetak ke dalam diriku, mengguncangku keluar dari mimpiku
sendiri: mimpi yang melihatkan sebuah pantai dan seorang cowok seksi yang
sedang mengoleskan krim antimatahari pada tubuhku. Citra demi citra―miliknya,
bukan milikku―bergantian mengusik pikiran: api dan darah, bau asap, sebuah
mobil yang ringsek. Semua gambaran itu menyelubungiku, terasa menyesakkan,
hingga akhirnya akal sehat mengingatkan kalau itu bukan mimpi-ku.
Aku terbangun, dengan helaian rambut panjang yang gelap menempel di kening.
Lissa berbaring di tempat tidurnya sambil menendang-nendang dan berteriak. Aku
bergegas turun dari ranjangku sendiri, dan cepat-cepat menyeberangi jarak sempit
yang memisahkan kami.
“Liss,” kataku sambil mengguncang tubuhnya. “Liss, bangun.”
Jeritannya langsung memudar, digantikan oleh gumaman pelan. “Andre,”
erangnya. “Ya Tuhan.”
Aku membantunya duduk. “Liss, kau sudah tidak di sana lagi. Bangunlah.”
Setelah beberapa saat, mata Lissa membuka, dan dalam keremangan cahaya aku
bisa melihat percikan kesadaran mulai menghampirinya. Napasnya yang memburu
mulai tenang dan Lissa menyandarkan tubuhnya kepadaku, meletakkan kepalanya
di bahuku. Aku memeluk sambil mengusap-usap rambutnya.
“Tenanglah,” aku berkata lembut. “Semuanya baik-baik saja.”
“Aku mimpi itu lagi.”
0

Richelle Mead - Shadow Kissed
Richelle Mead - Shadow Kissed
Jari-jarinya meluncur disepanjang punggungku, memberikan penekanan–
penekanan tertentu dibeberapa titik, mengirimkan gelombang gairah di seluruh
daging yang menempel ditubuhku. Perlahan-lahan, tangannya bergerak diatas
kulitku, turun ke samping perutku, kemudian berakhir di lekukan pinggulku. Tepat

di bawah telingaku, kurasakan bibirnya menekan leherku, diikuti oleh ciuman-
ciumannya, lalu yang lainnya,

kemudian yang lainnya....
Bibirnya bergerak lagi dari leherku kemudian pipiku dan akhirnya menemukan
bibirku. Kami berciuman, berpelukan hingga kami begitu dekat. Darahku terbakar
bersamaku, dan aku merasa lebih hidup saat ini daripada hidup yang pernah
kurasakan sebelumnya. Aku mencintainya, sangat mencintai Christian yang –
Christian?
Oh tidak.
Beberapa bagian dari diriku tiba-tiba menyadari apa yang sebenarnya terjadi –dan
ya Tuhan, hal ini membuatku kesal. Sebagiannya lagi, bagaimanapun juga, masih
saja pasrah menikmati kejadian ini, menganggap bahwa akulah yang sedang
disentuh dan dicium. Bagian dari diriku yang tidak mampu terlepas. Aku terlalu
dekat dengan Lissa, dan karena segala kedekatan dan maksud inilah semua ini
terjadi padaku.
Tidak, aku berbicara keras dengan diriku sendiri. 'Ini tidak nyata—tidak untukmu.
Pergi dari sana.
Tapi bagaimana aku bisa mendengarkan logika ketika setiap inci dari tubuhku
sedang terbakar gairah?
Kau bukan dia. Ini bukan kepalamu. Keluar.
Bibirnya. Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini sekarang selain bibirnya.
Ini bukan dia. Keluar.
Ciumannya sama, benar-benar sama seperti ciuman yang kuingat kulakukan
dengannya. ...
Tidak, ini bukan Dimitri. Keluar!
Nama Dimitri seperti air dingin yang menampar wajahku. Aku berhasil keluar.
Aku duduk tegak di atas ranjangku, tiba-tiba merasa seperti habis tercekik. Ku coba

menendang selimutku menjauh, tapi ternyata hanya berakhir dengan terlilit dikaki-
kakiku. Jantungku berdetak cepat dalam dadaku, dan aku mencoba untuk menarik

napas dalam-dalam, berusaha perlahan-lahan mengatur menenangkan diri dan
kembali ke kehidupan nyataku sendiri.
0

Richelle Mead - Blood Promise
Richelle Mead - Blood Promise
SAAT AKU DUDUK di kelas sembilan, aku harus menulis sebuah laporan
mengenai sebuah puisi. Satu dari barisnya berbunyi, “Jika matamu tidak terbuka,
kau tidak akan pernah tahu bedanya bermimpi dan bangun.” Puisi ini sama sekali
tidak berarti apa-apa bagiku saat itu. Apalagi, ada seorang cowok yang aku suka di
kelas, jadi bagaimana mungkin aku bisa berharap untuk bisa memperhatikan
pelajaran analisis sastra? Sekarang, tiga tahun kemudian, aku sangat memahami apa
maksud puisi itu sebenarnya.
Sebab akhirnya, kehidupanku benar-benar terlihat seperti berada di tepian curam
mimpi. Ada beberapa hari dimana aku merasa aku sudah terbangun dan
menemukan kalau apa yang baru saja terjadi dalam hidupku tidak benar-benar
terjadi. Pastinya aku adalah seorang putri dalam tidur yang mempesona. Beberapa
hari kemudian, mimpi ini – bukan, mimpi buruk – akan berakhir, dan aku akan
mendapatkan pangeranku hingga mendapatkan akhir yang bahagia.
Tapi tidak ada akhir yang bahagia yang bisa ditemukan, paling tidak, tidak ada pada
masa depan yang sudah bisa ditebak. Dan pangeranku? Sebenarnya, ceritanya
panjang. Pangeranku sudah berubah menjadi vampir – seorang Strigoi secara
spesifik. dalam duniaku, ada dua jenis vampir yang tinggal dalam kerahasiaan dari
manusia. Moroi adalah vampir yang hidup, vampir baik yang mempunyai sihir
elemen dan tidak membunuh ketika meminum darah yang mereka butuhkan untuk
bertahan hidup. Strigoi adalah vampir kekal, abadi, dan tidak berperasaan, yang
membunuh siapa saja yang menjadi mangsa mereka. Moroi terlahir, Strigoi dibuat –
dipaksa atau keinginan sendiri – melalui jalan setan.
Dan Dimitri, pria yang aku cintai, telah dirubah menjadi Strigoi dengan paksaan.
Dia dirubah ketika pertarungan terjadi, sebuah misi penyelamatan dimana aku juga
menjadi salah satu bagian di dalamnya. Strigoi menculik Moroi dan dhampir dari
sekolahku, dan kami dijebak untuk menyelamatkan mereka. Dhampir adalah
makhluk setengah vampir-setengah manusia – diberkahi dengan kekuatan dan daya
tahan tubuh manusia, dan gerak refleks dan indra yang tajam dari Moroi. Dhampir
dilatih untuk menjadi pengawal, pengawal eksklusif untuk melindungi Moroi. Itulah
aku. Itulah Dimitri sebelumnya.
0

Ria N. Badaria - A Shoulder to Cry on
CUACA luar biasa panas pagi ini, saat cerita ini dimulai. Danu mengayuh sepeda sekuat-
kuatnya. Sepedanya bergerak cepat, menyalip lincah di antara ramainya kendaraan bermotor

yang memadati jalan raya Jakarta pagi hari. Sengatan matahari membuat peluh mulai
membasahi seragamnya, tapi tidak membuatnya memperlambat kayuhan, ia malah semakin
ngebut ketika memasuki sebuah kompleks perumahan.

Danu mengerem sepedanya tepat di depan rumah mungil berlantai dua bercat biru tua. Di
depan pagar teralis rumah itu berdiri gadis berseragam sama dengan Danu, rambut sebahunya
diikat satu asal-asalan, wajahnya cemberut.

―Lo lama banget sih? Udah jam berapa nih?‖ gerutu si gadis. ―Gue hampir jalan sendiri
ninggalin lo.‖

―Sori, Anka, gue bangun kesiangan. Tadi kan gue udah SMS lo kalo gue agak telat hari ini,‖
jelas Danu ngos-ngosan, seraya menghela napas dan mengelap keringat di dahinya.

Melihat Danu yang begitu kelelahan, gadis yang dipanggil Anka itu berhenti menggerutu,
meredam kekesalannya. Anka mengeluarkan sepedanya yang sengaja diletakkannya di
samping mobil inventaris kantor ayahnya.

―Berangkat, yuk! Takut telat nih, gue kebagian Kimia jam pertama, gurunya galak,‖ ajak
Anka, seraya naik ke sadel sepedanya, siap berangkat.

―Nggak pamit ibu sama ayah lo dulu, Ka?‖
0

thumbnail-cadangan
Razy Bintang Argian - MATEMACINTA -
Razy Bintang Argian - MATEMACINTA -
Sinopsis
Lengkap sudah daftar dosa yang dimiliki Rin. Cewek tomboy 17 tahun ini sering terlambat ke
sekolah, sering cabut, jarang bikin PR, langganan disetrap dan dipanggil guru BP, bahkan suka
nyuri mangga tetangga. Dan apesnya, waktu lagi nyuri mangga, Rin kepergok Rio, keponakan si
pemilik rumah.
Nasib sial masih membayangi Rin. Ternyata guru matematika pengganti di sekolah Rin
adalah..... Rio! Selain tetangga yang menyebalkan, bagi Rin, Rio ini juga guru yang
menyebalkan. Rio kayaknya hobi banget bikin perkara sama Rin. Mulai dari nama Rin yang
diganti jadi "Marmut", ngasih hukuman seabrek gara-gara Rin nggak ngerjain PR, bahkan Rio
sampai nantangin Tommy, cowok cakep gebetan Rin, tanding basket.
Tapi gara-gara Edwin, bocah nakal sepupu Rin, Rin sempat nonton bareng Rio di bioskop. Terus
pas Rin dikeroyok berandalan, Rio juga yang nyelamatin Rin. Sejak kejadian itu, mereka jadi
akrab dan berteman. Perlahan-lahan Rin mulai suka sama matematika, dan tanpa sadar dia juga
suka sama guru matematikanya itu.
Memang benar kata orang bijak, "Kita emang nggak bisa nentuin kapan dan pada siapa kita
jatuh cinta....."
0

Rani - Cinta Cewek Pengintai
Rani - Cinta Cewek Pengintai
PAGI yg indah. Terlihat seorang gadis cantik berumur 15 tahun bernama Rara Putri
Darmawan. Ayahnya keturunan jawa-sunda, sementara bundanya sunda-manado. meski sedikit
tomboy, sisi femininnya tetap terlihat. Rambutnya panjang lurus & sering dikuncir kuda, kulitnya
putih, pipinya berlesung & matanya indah dgn bulu mata yg lentik. pokoknya manis bgt deh.
Dengan T-Shirt merah & celana pendek hitam, dia terlihat membawa tas berisi peneropong &
kamera digital dgn 5 kali zoom & 5.1 megapixel. Tak ketinggalan walkman & topi jaring. Sesekali
terlihat kepalanya bergoyang mengikuti irama musik yg mengalun dari walkmannya.
Di sebuah taman perumahan elite, rara menghentikan sepedanya dan menyandarkannya
pada sebuah pohon rindang. Taman itu asri dikelilingi pepohonan di sekitarnya.
Tampak dari kejauhan seorang cowok berumur 17 tahun sedang berolahraga
menggunakan skipping rope. Dia memakai jaket biru & training putih. Dari balik pohon, rara
terlihat mengeluarkan kamera foto & mengarahkan lensanya ke cowok itu. ya, udah 2 tahun rara
mengintainya. peralatannya dari yg sederhana sampai yg tercanggih. 'makin keren aja tuh
samudra hidup gue. Apalagi dgn jaket biru sekarang. i'm still secret admirer until now' rara terlihat
tersenyum.
Cowok itu bernama samudra. Tepatnya Samudra One Sasongko. One menunjukan bahwa
dia adalah anak tunggal . Siswa SMA ini memang tampan. Tubuhnya tinggi dgn kulitnya yg putih.
Belum lg gaya rambutnya yg indies & muka blasteran Eropa Jawa, sehingga mirip bgt sama
Johnny Deep. Apalagi, pembawaannya jga tenang rara suka sama sam sejak SMP kelas 1. Sejak
rara melihat sdg main basket didepan rumahnya kebetulan, waktu itu rara baru saja pindah
ketempat tinggalnya yg sekarang. Disetiap kesempatan, rara selalu mencoba mengintai samudra.
memotret & kadang meneropongnya kebetulan rumah merekd berhadapan. Orang tua mereka
sebenarnya saling kenal. Ayah Sam adalah pengusaha kayu, sedangkan ibunya pengusaha
dibidang ritel.
Seorang cewek hitam manis berpipi chubby serta berambut pendek dgn T-Shirt biru & celana
pendek putih mendekati rara yg sedang asik mengintai samudra. Cewek itu menyandarkan

sepedanya tepat disebelah sepeda rara. sambil mengendap-endap, diap mengambil ancang-
ancang untuk mengagetkan rara.

"Duar
rr!!!" rara terkejut. teropong yg dia pegang pun jatuh.
"apaan sih mil! bikin gue kaget aja?" kata rara sambil mengambil teropongnya.
"sahabat gue yg cantik ini masih aja jdi cewek pengintai."rara mendorong mila.
"diam d
eh jangan resek."
0

Ahmad Fuadi - Berjuang di Tanah Rantau
Ahmad Fuadi - Berjuang di Tanah Rantau
Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu
Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta
meluaskan ilmu

—Diadaptasi dari bait syair-syair Imam Syafi’i (767–820 M)


SAYA berdecak kagum membaca syair yang ditulis Imam
Syafi’i sekitar 1.200 tahun silam. Pada masa itu, bahkan
ketika belum ada pesawat dan mobil, ulama terkenal ini

sudah berkelana dengan unta, kuda, dan kapal layar. Wa-
lau perjalanan saat itu sulit, Imam Syafi’i sudah menganjur-
kan orang merantau jauh karena dia percaya merantau itu

mendatangkan paling tidak lima keutamaan.
Pada saat kita sedang bersedih dan berduka, sebuah
perjalanan bisa merawat luka dan menjadi obat penawar
pilu. Dengan perjalanan yang jauh dan keluar dari zona nya-
man, kita akan terpaksa melihat pemandangan yang berbe-
da dengan perspektif yang segar. Dari perubahan perspektif

itu akan terbuka berbagai kemungkinan baru. Mungkin itu
peluang baru, karier baru, atau rezeki yang baru.
Yang menarik, Imam Syafi’i melihat perantauan tidak
hanya dalam konteks mencari penghasilan dan kehidupan.

Tetapi, dia juga yakin bahwa perantauan akan membuka-
kan kesempatan untuk memperkaya peradaban kita, ber-
gaul dengan orang-orang yang terpuji, dan tentu saja

meluaskan ilmu pengetahuan. Jadi, menurut ulama terso-
hor ini, perantauan tidak hanya fisik, tetapi juga perantau-
an rohani dan intelektual. Membuat kita lebih bersyukur,

lebih memaknai hidup, dan lebih mencintai ilmu.

Kisah yang ada di dalam buku ini adalah racikan ce-
rita dari berbagai perantau yang bercerita manfaat dan

perjuangan mereka sebagai perantau. Beragam sudut
pandang, tetapi sama-sama mengalirkan semangat untuk
mencari kebaikan dari perjalanan ke luar negeri.
https://www.download-pdf.ikhsan.my.id/p/forbidden.html

Forbidden

0

Ran Orihara - Amazing Guardian 2
Ran Orihara - Amazing Guardian 2
Semua mata memandang tiga sosok yang berkilauan itu dari kejauhan. Ada yang berbisik-bisik,
ada pula yang diam-diam berusaha mengambil foto mereka melalui ponsel berkamera. Bukan
hanya pengunjung, bahkan para pramusaji di sana pun bolak-balik mencuri pandang ke sebuah
meja yang terletak paling ujung, tepat di samping jendela. Namun ketiga orang yang berada di
meja itu tidak terlalu peduli keadaan di sekitar. Selain karena sibuk berdiskusi tentang hal yang
krusial, sepertinya mereka juga sudah terbiasa menjadi pusat perhatian di kota Gifu, yang
memiliki sejarah panjang sejak Sengoku Jidai. 1 (1 Sengoku Jidai: Zaman Sengoku atau zaman
perang saudara di Jepang. Berlangsung sekitar tahun 1493-1573.)
“Jadi, apa kau mau menerimanya?” tanya Izumi sambil memandang Asa.
“Sudah jelas harus diterima dong.” Kaze yang duduk di sebelahnya langsung menimpali, “Kita
tahu sendiri, satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Tuan Putri memang cuma Naito,
kan?”
“Benar juga.” Izumi mengangguk setuju, “Kurasa itu jalan terbaik.”
Brak! Asa menggebrak meja, “Kalian bisa serius sedikit nggak sih?” desisnya pelan. Meski ingin
membentak dengan suara lebih keras, namun ia terpaksa menahan diri. Karena bagaimanapun
juga, mereka berada di sebuah famiresu,2 (2 Famiresu: Singkatan dari family restaurant) yang
merupakan tempat umum. Asa jelas tidak mau mempermalukan diri sendiri kalau sampai
mengamuk di sini.
Kaze dan Izumi berpandangan, lalu sama-sama menghela napas panjang. Seolah memiliki
pemikiran yang sama.
“Tuan Putri, kurasa nggak ada lagi laki-laki yang lebih pantas untukmu daripada Naito,” ucap
Kaze sambil menyerumput segelas jus di depannya.
“Ya. Itu sudah pasti.” Izumi menguap lebar, tidak terlalu ambil pusing. “Saat teman-teman
sekelas menggosipkan kalian berdua, aku juga nggak begitu kaget mendengarnya. Apalagi
melihat sikap Naito padamu selama ini...”
Asa yang melihat kedua lelaki di depannya bisa begitu santai, jadi merasa konyol sendiri dengan
kegelisahannya. “Memangnya bagaimana sikap Naito padaku? Bukannya dia juga
memperlakukan semua orang sama rata?”
“Tentu saja tidak.” Kaze otomatis menggeleng sambil tersenyum lebar, “Karena selalu
bersamanya hampir sepanjang waktuk, makanya Tuan Putri nggak sadar. Mungkin hanya orang
buta yang tidak bisa melihat bagaimana dia begitu menjagamu.”
Sekarang Kaze benar-benar paham. Selama ini dia selalu menerka-nerka, bahkan kadang tidak
begitu mengerti dengan kedekatan yang tidak biasa antara Asa dan Naito, namun saat ini...
semua sudah jelas. Masalahnya sekarang, tinggal bagaimana keputusan si Tuan Putri setelah
mengetahui perasaan laki-laki itu padanya.
“Kamu terlalu manja pada kebaikan Naito.” Izumi memberikan komentar yang kontan membuat
Asa membelalak lebar. Dibanding Kaze, nada bicara laki-laki berkacamata itu jauh lebih tegas.
“Selama ini, Naito selalu di sisimu, mati-matian menahan perasaan karena tidak ingin
membuatmu susah. Sekarang, sudah waktunya kau lebih memperhatikan dia.”
Asa langsung menundukkan kepala. Ia sama sekali tidak mampu melawan perkataan Izumi,
kata-kata itu benar-benar tertancap di dalam benaknya. “Tapi aku nggak tahu harus
bagaimana....”
0

Ahmad Fuadi - Ranah 3 Warna
Ahmad Fuadi - Ranah 3 Warna
Mendaki Tiga Puncak Bukit

Aden duduk di sebelah atas ya. Dan seperti biasa, aden
pasti menang!” teriak Randai pongah, sambil memanjat
ke puncak batu hitam yang kami duduki. Batu sebesar gajah
ini menjorok ke Danau Maninjau, dinaungi sebatang pohon
kelapa yang melengkung seperti busur.

”Jan gadang ota. Jangan bicara besar dulu. Ayo buktikan
siapa yang paling banyak dapat ikan,” sahutku sengit. Aku
duduk di bagian batu yang landai sambil menjuntaikan kaki
ke dalam air danau yang jernih. Sekeluarga besar ikan supareh
seukuran kelingking tampak berkelebat lincah, kerlap-kerlip
keperakan. Dengan takut-takut mereka mulai menggigiti sela-
sela jari kakiku. Geli-geli.

Hampir serentak, tangan kami mengayun joran ke air yang
biru. Bukan supareh yang kami incar, tapi ikan yang lebih
besar seperti gariang atau kailan panjang. Randai sedang libur
panjang dari ITB dan aku baru tamat dari Pondok Madanidi
Ponorogo. Ini saat menikmati kembali suasana kampung kami:

https://www.download-pdf.ikhsan.my.id/p/forbidden.html

Forbidden

0

Ran Orihara - Amazing Guardian 1
Ran Orihara - Amazing Guardian 1
Malam itu sepi dan dingin. Bulan juga hanya membiarkan sebagian dirinya untuk menerangi
kegelapan kali ini. Tak seorang pun terlihat di kompleks perumahan ini. Hanya terdengar
suara angin berhembus kencang. Di depan sebuah balkon rumah bertingkat dua, terlihat
bayang-bayang orang yang berdiri.
Mereka mengeluarkan suara-suara berbisik seperti memberi aba-aba. “Si... siapa kalian?”
Suara anak laki-laki dari dalam ruangan itu terdengar panik. Pemilik rumah yang mendengar
suara asing di depan balkon kamar tidurnya langsung ternganga.
Melalui pintu geser transparan yang menyambungkan kamar dan balkon, ia bisa melihat

sosok-sosok misterius yang ada di sana. Tidak bisa ditutupi, ada perasaan takut yang tiba-
tiba membuatnya gemetaran. Laki-laki itu menelan ludah sekali sebelum akhirnya

memberanikan diri membuka pintu geser di depannya.
Wusss. Angin langsung menyeruak masuk dan menerbangkan kertas-kertas tugas
sekolahnya. Tiba-tiba...
Bukk!
Laki-laki itu jatuh ke belakang tepat ketika akan keluar. Belum sempat ia berdiri, tubuhnya
mendadak kaku karena melihat bayang-bayang itu mendekat, berdiri tepat di depannya.
Untung saja ada cahaya temaram dari kamar tidur yang sedikit membantunya di tengah
kegelapan. Ia sontak terkesiap. Kali ini, ia dengan jelas bisa melihat bentuk bayangan tadi
karena jarak mereka cukup dekat.

“Dari mana kalian masuk?? Apa kalian perampok?” Suara anak laki-laki itu bergetar. Cepat-
cepat ia berdiri menghadap mereka, bersikap defensif.

“Apa kami terlihat seperti perampok, Hanazawa Takahisa?” ucap salah satu bayangan.
Suaranya berirama merdu. Terdengar seperti suara perempuan muda.
“Dari mana kamu tahu namaku?” Laki-laki yang bernama Hanazawa Takahisa itu semakin
ketakutan, tapi ia tetap tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah-wajah misterius yang
ada di depannya.
Sebab, mereka tidak terlihat seperti manusia biasa! Semuanya memakai pakaian serba
hitam, dengan jubah panjang yang menutupi bagian belakang tubuh mereka hingga
mendekati kaki. Hanya satu dari mereka yang berambut panjang dan menggunakan rok di
atas lutut dengan stocking yang juga berwarna hitam, satu-satunya yang diyakini Takahisa
sebagai perempuan dalam kelompok misterius itu. Lalu ada faktor lain yang membuatnya
terpana. Secara fisik orang-orang ini sangat unik, mereka memiliki mata serta rambut
dengan warna mencolok!
Takahisa masih takjub, ia tak sanggup menjawab pertanyaan dari orang-orang misterius
yang tiba-tiba ada di atas balkon rumahnya, ia terlalu kaget dan bingung. Bagaimana cara
mereka masuk dan naik ke sini? Kenapa mereka bisa tahu namaku? Apa iya penjahat
berpenampilan mencolok begini? Runtutan pertanyaan terus berputar di kepalanya.
“Guardian time!” Mendadak saja si perempuan misterius berkata dengan senyum manis.
Belum sempat Takahisa bereaksi, beberapa bayangan itu tiba-tiba menjentikkan jari mereka
bersamaan, lalu “GOTCHA!" ucap mereka sambil menunjuk wajah Takahisa dengan jari
telunjuk dan ibu jari, seperti membentuk sebuah pistol.
0
 
Download PDF